April 2008


Peringatan Hari Bumi di Kota Kendari dilakukan dengan cara mematikan mesin kendaraan selama beberapa menit dan pembagian bibit pohon kepada pengguna jalan. Tak tanggung-tanggung peringatan hari bumi di bumi anoa itu dipimpin langsung oleh pihak Polresta Kendari bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, Green Press Kendari, Mahacala Universitas Haluoleo dan BP DAS Sampara Sultra. (lagi…)

Earth Day. Hari Bumi. Apa yang akan kita lakukan hari ini? Sesuatu yang hijau kah? Coba salah satu kegiatan ini seperti menaikkan temperatur AC, mandi ala pelaut, naik sepeda ke kantor, print memakai kertas bekas, atau semudah mematikan semua alat elektronik dan lampu yang tidak terpakai dan tidak membuang sampah sembarangan. (lagi…)

Senator Gaylord Nelson

Tiga puluh tahun yang lalu pada 22 April 1970, hari bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator, . Embrio gagasan hari bumi dimulai sejak ia menyampaikan pidatonya di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, dalam hal ini lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model “teach in” yaitu sessi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup. Ternyata masyarakat menyambut baik ide ini, sehingga gerakan lingkungan benar-benar semarak, dan timbul arus gerakan yang lebih besar dengan dicanangkannya Hari Bumi .

Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan menggelar peringatan Hari Bumi yang monumental. ketika jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York dengan mengacungkan tinju kemarahan kepada para perusak bumi. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di New York, Washington dan San Fransisco. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970.

Nelson menyebutkan fenomena ini sebagai ledakan akar rumput yang sangat mencengangkan’ dimana : ” Masyarakat umum sungguh peduli dan Hari Bumi menjadi kesempatan pertama sehingga mereka benar-benar dapat berpartisipasi dalam suatu demonstrasi yang meluas secara nasional, dan dengan itu menyempaikan pesan yang serius dan mantap kepada para politisi untuk bangkit dan berbuat sesuatu “.

Menurut berbagai analisis ledakan ini muncul karena bergabungnya generasi pemrotes tahun 60-an (bagian terbesar adalah pelajar, mahasiswa, sarjana) yang terkenal sebagai motor gerakan anti-perang, pembela hak-hak sipil yang radikal. Sebuah perkawinan antara pemberontakan 60-an dan kesadaran lingkungan tahun 60-an.

Kesadaran terhadap lingkungan hidup pada masyarakat di Amerika Serikat mulai tergugah semenjak diterbitkannya buku “Silent Spring” karya Rachel Carson pada tahun 1962. Buku ini mengangkat seputar permasalahan lingkungan hidup yang sedang terjadi dan akan membahayakan manusia. Sejak beredarnya buku ini bermunculanlah berbagai kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup.

Hari Bumi yang pertama ini di Amerika Serikat merupakan klimaks perjuangan gerakan lingkungan hidup tahun 60-an untuk mendesak masuk isu lingkungan sebagai agenda tetap nasional. Kini peringatan Hari Bumi telah menjadi sebuah peristiwa global. Para pelaksana peringatan Hari Bumi menyatukan diri dalam jaringan global masyarakat sipil untuk Hari Bumi yakni EARTH DAY NETWORK yang berpusat di Seattle.

Puncaknya, yaitu saat kelompok-kelompok ini berhasil menggerakkan jutaan orang untuk turun ke jalan dalam pencanangan Hari Bumi pada 22 April 1970. Saat itu sebenarnya ada beberapa tema lain selain masalah penyelamatan lingkungan hidup, antara lain masalah anti perang Vietnam, masalah anti rasial, dan beberapa permasalahan sosial yang lain. Namun masyarakat Amerika saat itu lebih memfokuskan gerakan aksi besar-besaran ini pada tema lingkungan hidup yang dibawakan sebagai pesan terhadap kalangan politisi dan pemerintah untuk memperhatikan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan hidup.

Dari keberhasilan gerakan Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970 di Amerika, lahirlah berbagai kelompok besar pelestari lingkungan hidup, antara lain Environmental Action (di Washington, 1970), kelompok Greenpeace (kelompok pelestari lingkungan yang cukup radikal dan militan, lahir pada tahun 1971), Environmentalist for Full Employment (kelompok penentang industrialisasi, lahir tahun 1975), Worldwatch Institute (pusat penelitian dan studi yang mengumpulkan berbagai informasi ancaman lingkungan global, lahir tahun 1975), dan masih banyak lagi kelompok-kelompok pemerhati lingkungan yang lain.

Semenjak dicanangkannya Hari Bumi pada tahun 1970, kelompok-kelompok yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan hidup di Amerika mengalami peningkatan jumlah anggota dengan sangat pesat, antara lain :
(Kelompok) Audubon Society th 1962 : 41.000 orang th 1970 : 81.500
Izaak Walton League th 1966 : 52.600 orang th 1970 : 53.600
National Wildlife Federation th 1966 : 271.900 orang th 1970 : 540.000
Sierra Club th 1959 : 20.000 orang th 1970 : 113.000
Wilderness Society th 1964 : 27.000 orang th 1970 : 54.000

Namun lepas dari semua sejarah mengenai hari bumi, tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah bagaimana umat manusia untuk tetap menjaga dan menyelamatkan bumi kita ini dari kehancuran .

Dan semua itu kita lakukan tidak hanya pada Hari Bumi saja, tetapi juga setiap saat.
Sebagai informasi tambahan, peristiwa lain yang terjadi di 22 April, adalah:

  • Tahun 1529: Perjanjian Saragosa ditandatangani, membagi belahan bumi timur antara Spanyol dan Portugal dengan batas garis bujur 17° sebelah timur Kepulauan Maluku.
  • Tahun 1578: Kerajaan Sumedang Larang berdiri sekaligus menandai berdirinya Sumedang.
  • Tahun 1724: Kelahiran Immanuel Kant, filsuf Jerman, wafat 1804.
  • Tahun 1870: Vladimir Illich Ulyanov, kelak dikenal sebagai Vladimir Lenin lahir di Simbirsk Rusia.

(Naskah dan foto diolah dari berbagai sumber /Marwan Azis-Greenpress)

Oleh : Lutfi Pratomo

Pengaruh media sangat besar dampaknya untuk melihat sisi obyektivitas masyarakat. Dalam obyektivitas Lippmann melukiskan dalam karyanya, Public Opinion, terbitan 1992 tentang lingkungan semu (pseudo-environment).

Lippmann mengatakan, dunia obyektif yang dihadapi manusia berada di luar jangkuannya, di luar penglihatannya, di luar pemikirannya. Di dalam benaknya, setiap manusia membuat bagi dirinya sendiri suatu gambaran mengenai dunia luar yang sedikit banyak ia percaya. Maka, manusia bertindak tidak berdasarkan pengetahuannya yang langsung pasti mengenai dunia nyata, tetapi berdasarkan gambaran-gambaran yang ia buat sendiri atau yang ia dapatkan dari orang lain. Apa yang ia dilakukan seseorang tergantung pada gambaran-gambaran yang ada dikepalanya.

Yang dikatakan Lippmann, penulis sangat menyetujuinya dalam peran media pers khususnya di setiap negara.  Banyak dari wartawan melaporkan yang ia sendiri tidak tahu apa berita yang diliputnya, khususnya berita permasalahan Lingkungan Hidup. Oleh karena itu, perusahaan media baik cetak dan televisi selalu interdependen dalam permasalahan isu. Bukan menciptakan isu. Seperti halnya, dengan booming-nya berita tentang perubahan iklim. Perusahaan media pers yang satu  menampilkan dengan kemasan berita yang berbeda namun isinya sama dengan perusahaan-perusahaan media lainnya  dengan data yang seadanya ditambah dengan data dari Non Government Organization (NGO) lingkungan hidup. Namun, tidak semua wartawan terjun langsung melihat kejadian yang sebenarnya untuk diungkap.

Selesai isu permasalahan lingkungan hidup tidak lagi gencar, beberapa perusahaan media pers kembali lagi dengan berita-berita kebijakan politik dan ekonomi. Kendati demikian, perusahaan media lebih mementingkan berita yang berkaitan dengan politik dan ekonomi yang hegemoni ketimbang memberikan kolom pada berita tentang lingkungan hidup. Coba kita telisik, apakah ada koran atau media televisi yang isinya semua di prioritaskan untuk masalah lingkungan hidup di Indonesia. Mudahan-mudahan, beritahabitat.net bisa jadi koran atau televisi untuk memberitakan permasalahan lingkungan hidup yang sangat krusial ini.

Sebenarnya setiap perusahaan media pers tidak harus lebih mementingkan ke bisnis dengan meraup keuntungan-keuntungan besar tanpa memikirkan dampak yang terjadi. Kendati demikian,  kebijakan politik dan ekonomi di abad ini bukan lagi hal yang menjadi prioritas utama yang mendasar. Coba kalau kita melihat banyak dari buku-buku, seminar-seminar tentang bisnis dan politik di abad globalisasi ini sangat mendominasi namun tidak memikirkan sisi ekologis lingkungan hidup. Apakah kita harus terus-menerus melihat euphoria menjadi followers di dalamnya?.

Dengan melihat kerusakan lingkungan hidup yang memberikan dampak menghancurkan sistem ekonomi dan kebijakan politik  seharusnya  menjadi hal yang utama. Saat ini, semestinya kita lebih memikirkan bagaimana organisasi-organisasi baik media pers, pemerintah, teknologi berkelanjutan secara ekologis. Seperti hal yang diungkap Fritjop Capra bahwa prinsip-prinsip organisasi sistem ekologis, yang merupakan dasar keberlanjutan, adalah sama dengan prinsip-prinsip organisasi semua sistem kehidupan. Dengan demikian, memahami organisasi manusia sebagai sistem hidup adalah suatu tantangan penting jaman kita.

Politik dan ekonomi merupakan alat kekuasaan hegemoni untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa harus memikirkan sistem yang hidup. Kita, sebagai manusia adalah sistem yang hidup, semestinya kita harus terus dinamis terhadap tanda-tanda alam dan perubahan-perubahannya dengan memahami sistem-sistem hidup yang terus-menerus membentuk ulang dirinya sendiri dengan atau mengganti bagian-bagiannya. Seperti apa yang dikatakan ahli teori organisasi Margaret Wheatley dan Myron Kellner-Rogers, “Kehidupan adalah guru yang terbaik mengenai perubahan”.

Untuk merubah hal tersebut, Capra menjelaskan bahwa dalam memecahkan permasalahan perubahan organisasi, pertama kita perlu memahami proses perubahan alami yang terjadi pada semua sistem hidup. Sesudah kita memahaminya, kita dapat segera merancang proses perubahan organisasi-organisasi manusia yang mencerminkan kemampuan adaptasi, keragaman hayati, dan kreativitas.

Dari sinilah kita bisa merefleksikan bahwa perusahaan-perusahaan media pers bertanggungjawab terhadap kerusakan-kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di setiap negara-negara berkembang, khususnya Indonesia.  Kenapa bertanggung jawab? Karena kerusakan-kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi, ternyata media gagal dalam mengampanyekan isu permasalahan lingkungan yang benar-benar krusial. Kendati demikian, apa yang disampaikan penulis diatas bahwa media pers sebagai organisasi perusahaan seharusnya tidak memikirkan bisnis namun harus lebih mementingkan permasalahan-permasalahan yang mencangkup hidup orang banyak, seperti halnya permasalahan lingkungan hidup. Hal ini pernah di sampaikan Patrick Daniel sebagai moderator diskusi Asia-Europe Fondation (ASEF) di Helsinki, Finlandia, 2006. Diskusi yang ikuti sekitar 30 wartawan dari Asia dan Eropa. Daniel mengatakan bukankah pers gagal dalam mengampanyekan masalah Lingkungan Hidup.

Lantas, bagaimana yang kita harus lakukan? Tentunya, alam sebagai sistem dinamis terus-menerus berubah dengan dampak yang diberikan manusia sebagai mahluk yang selalu aposentris. Perubahan-perubahan tersebut yakni, dengan adanya gempa, banjir, pemanasan global, tsunami, punahnya satwa liar sebagai bagian dari ekologis sistem hidup, badai topan dan tentunya masih banyak lagi.

Sebagai manusia, kita tinggal menunggu dampak tersebut atau kita terus menerus meraup keuntungan yang tidak berpihak pada sisi nilai ekolgis. Itu adalah pilihannya. * ( Sumber : Habitat.net)

Kita semua pasti pernah melakukan perjalanan, entah ke luar kota, entah ke mancanegara, entah ke kutub selatan dan utara, atau cuma menengok kerabat di kampung sebelah. Nah, sudahkah Anda mendokumentasikan kisah perjalanan Anda dalam sebuah tulisan?

Berikut tips dari Bung Akmal, wartawan Tempo di milis apsas yang ia kelola:

Melakukan perjalanan (ke luar kota, luar negeri) baik untuk kepentingan pekerjaan atau sekadar hobi pribadi, merupakan aktivitas yang sangat menarik.Banyak manfaat yang bisa diambil. para prosais dan penyair merekonstruksi ulang perjalanan itu dalam pelbagai bentuk kreatif. fotografer mengabadikannya dalam komposisi-komposisi visual.

Salah satu bentuk yang lebih umum, dan lebih cepat dikerjakan, adalah catatan perjalanan (bisa juga disebut “kisah perjalanan” atau apa pun nama lainnya), yang bisa dengan lekas dipublikasikan di media cetak umum. Melihat tingginya dinamika perjalanan anggota milis apsas, saya sarankan apsasian untuk membiasakan diri membuat sebuah catatan perjalanan yang bisa dipublikasikan bagi pembaca umum. salah satu kiat untuk ini diberikan oleh martin li, seorang penulis perjalanan dan fotografer asal Inggris yang biasa menulis untuk travel intelligence, london.

inilah beberapa poin utama dari :

Tulisan perjalanan adalah bagian dari reportase, bagian dari catatan harian, dan bagian dari penyediaan informasi bagi pelancong atau mereka yang hendak melakukan perjalanan. penulis perjalanan melakukannya dengan beragam gaya dan teknik yang berbeda.

Dari sisi pembaca, tatkala membaca tulisan perjalanan, mereka mungkin berharap bisa turut merasakan apa yang dialami penulis. aa melibatkan diri dalam tulisan dengan mengungkapkan pengalamannya ketika melakukan perjalanan.

Tentu, seorang penulis kisah perjalanan tidak sekadar menceritakan pengalamannya, tetapi juga mendeskripsikan tempat dan aktivitasnya. Dengan demikian, pembaca selain turut merasakan pengalaman penulis, juga mendapat informasi tentang lokasi yang menjadi tujuan perjalanan serta peristiwa yang menyertainya.

Berikut beberapa tips untuk membuat tulisan perjalanan.

1. segarberikan sudut pandang yang segar, jika mungkin, meliputi beberapa pokok permasalahan yang tidak biasa. kreatiflah dalam menulis perjalanan, termasuk dalam menggunakan gaya bahasa seperti metafora dan simile yang penuh daya dan orisinal.

2.personal
ambil pendekatan sendiri untuk sebuah tempat yang dikunjungi, sebuah
aktivitas yang anda coba lakukan atau sebuah petualangan mendebarkan yang
sedang anda kerjakan. apa yang sesungguhnya menginspirasi anda? Kenali dan
jelaskan kepada pembaca.

Cerita harus memiliki suara dan sudut pandang personal. ingatlah bahwa sebagian besar tempat yang anda tulis, sangat mungkin sebelumnya SUDAH ditulis orang lain. Ini merupakan tantangan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk dikatakan kepada pembaca.

3.jenaka
tulisan perjalanan hendaknya memiliki sebuah nada yang cerah, cemerlang, hidup, dan jenaka. perjalanan adalah sebuah proses berangkat dari yang familiar menuju kepada yang asing dan

tidak familiar, sering kaya akan peristiwa komedi dan jenaka.

Masukkan komedi ke dalam tulisan di tempat yang patut dan jangan takut membuat pembaca tertawa. Juga, jangan takut untuk memasukkan ”kecelakaan”, misalnya, ke dalam bagian-bagian tulisan.tak perlu ‘jaim’. Ini dapat menjadi seperti bacaan berharga.

4.surprise
Beri kejutkan kepada pembaca. berikan pembaca sesuatu yang tidak biasa,
sesuatu yang hanya diketahui sedikit orang—tentang suatu lokasi misalnya.
lakukan ini dengan mencoba aktivitas yang tidak biasa, bertemu dengan
orang-orang yang baru, terlibat ke dalam adegan yang asing ketika
berada dalam sebuah perjalanan.

5.seimbang
tulisan perjalanan harus memadukan observasi personal, deskripsi dan komentar
dengan informasi praktis yang berguna bagi pembaca. jadi, ada keseimbangan
yang cermat antara pengalaman personal, deskripsi lokasi, deskripsi kegiatan
atau peristiwa. dan ingat bahwa saat menulis sebuah kisah perjalanan, anda juga seorang wartawan sehingga akurasi fakta tetap harus diperhatikan.

6.kutipan
untuk memperkaya tulisan kutip komentar teman perjalanan atau pengunjung suatu kegiatan atau lokasi. silakan mereka mengekspresikan perasaan mereka, kengerian, atau ketakjuban

mereka tentang suatu tempat atau kegiatan yang sedang berlangsung.

Lalu, setelah sebuah tulisan perjalanan selesai digubah, mau dikemanakan? dipampang di blog pribadi, oke-oke saja. dikirimkan ke media umum, juga tak ada salahnya. Jangan lupa berikut foto (dalam format jpg). jika dimuat, honornya tentu lumayan buat merencanakan perjalanan berikutnya. :)

Jadi tunggu apa lagi? mau jalan-jalan ke pelosok negeri? mau mampir sebentar (lama juga boleh) ke luar negeri, all

welcome.

salam kreatif,

Laporan terakhir mengenai penerbitan buku tidak mengompilasi angka-angka penjualan, atau siapa yang menduduki peringkat teratas dalam daftar best seller. Alih-alih, laporan sepanjang 86 halaman berjudul Environmental Trends and Climate Impact tersebut memberikan sebuah laporan menggembirakan bahwa industri buku setiap tahunnya berusaha berproduksi dengan cara-cara yang ramah lingkungan.

“ Ini kejutan yang amat menyenangkan,” ujar Tyson Miller, pendiri sekaligus direktur the Green Press Initiative, sebuah badan nirlaba yang kerap bekerjasama dengan para penerbit untuk mendukung isu-isu lingkungan.

Secara komersial, tema-tema lingkungan adalah tema yang menguntungkan industri penerbitan. Buku kontroversial An Inconvenient Truth karya Al Gore, serta Green This yang ditulis Derdre Imus hanya beberapa contoh buku tentang lingkungan yang laris manis.

Setiap tahunnya industri buku dunia menghabiskan sekitar 1,5 juta ton metrik kertas. Laporan ini menunjukkan bahwa sudah banyak penerbitan yang menargetkan untuk menggunakan kertas daur ulang dalam produksi bukunya.(Yahoo/ Devi/Jurnas)

Ini ada artikel menarik yang menyorot kepekaan media dan jurnalis lingkungan dalam berbagai persoalan lingkungan yang melilit tanah air yang ditulis Oleh Pak Triyono Lukmantoro. Tulisan ini pernah diterbitkan Suara Pembaharuan (Red)

Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sedang mengemuka. Muncul pro dan kontra di sana. Kalangan pakar yang berasal dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) merupakan pihak yang selalu berupaya mendorong realisasi pendirian PLTN. Sebaliknya, masyarakat dan kalangan aktivis lingkungan menolaknya. Buktinya, ribuan warga Kota Kudus, yang didukung kalangan aktivis, berdemonstrasi menentang rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara.

Penolakan itu didasari pertimbangan bahwa PLTN memiliki efek buruk bagi keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup di darat, air, serta udara baik dalam rentang waktu yang pendek maupun rentang waktu yang panjang. Masyarakat tampaknya memiliki pemahaman bahwa PLTN memberikan lebih banyak kerugian ketimbang manfaat jika dilihat dari perspektif ekonomis maupun ekologis. Kesadaran masyarakat itu harus ditanggapi secara positif.

Pada dasarnya, persoalan kerusakan lingkungan bukan saja akibat didirikannya PLTN. Protes terhadap pembangunan PLTN selayaknya juga mampu mengingatkan kita semua tentang bumi yang ditempati manusia tidak akan berusia lama. Pemanasan global dan semakin merosotnya kualitas lingkungan menjadikan kurun satu abad ke depan sebagai one final century (abad kita yang terakhir).

Apa yang dapat dijalankan institusi media massa untuk memberikan respon terhadap bumi manusia yang semakin mengalami kerusakan? Seharusnya kalangan pekerja media (jurnalis) lebih intensif untuk menyoroti akar persoalan degradasi ekologis. Gejala yang tampak selama ini menunjukkan bahwa lembaga media kurang memberikan kepedulian pada masalah-masalah lingkungan. Bahkan, jurnalisme lingkungan terasa asing bagi lembaga media.

Fenomena ini dapat disimak pada pemberitaan-pemberitaan yang disajikan media terhadap masalah lingkungan. Ekspose yang lazim disajikan pihak media hanya mengungkapkan akibat-akibat kerusakan lingkungan, seperti rob (limpasan air laut ke wilayah daratan), banjir bandang, gelombang pasang, tanah longsor, angin puting beliung, atau suhu udara yang memanas. Pihak media jarang menyoroti sebab-sebab terjadinya bencana alam. Problem fundamental yang menyebabkan degradasi ekologis sangat langka dijadikan prioritas agenda pemberitaan. Boleh dikatakan bahwa pihak media lebih dominan menunjukkan sikap reaktif yang bersifat sesaat, dan bukan karakter antisipatif, terhadap persoalan lingkungan.

Kesadaran Publik

Ketika tidak ada bencana alam menerjang yang mengakibatkan korban-korban manusia berjatuhan dan harta benda mengalami kehancuran, media lebih banyak memilih sikap diam dan kurang tanggap. Simaklah bagaimana isu pemanasan global ditanggapi secara kurang berarti. Padahal, kehancuran ekologis pada level global memiliki dampak serius pada kerusakan lingkungan secara keseluruhan. Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektif jurnalisme lingkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan.

Dapatkah diberikan suatu konklusi awal bahwa jurnalisme lingkungan sedang mengalami kematian? Untuk menyatakan jurnalisme lingkungan sedang mengalami kematian tampaknya memang terlalu dini dan sangat gegabah. Kemungkinan lebih tepat jika disebutkan bahwa jurnalisme lingkungan kurang mendapatkan tempat yang baik dalam pemberitaan-pemberitaan media. Sebabnya adalah jurnalisme lingkungan lebih banyak menyoroti aspek-aspek non-manusia, seperti air, udara, serta tanah yang dilihat dari segi nilai berita memang rendah. Padahal, semua hal yang diposisikan seakan-akan sebagai benda-benda mati itu berinteraksi dengan kehidupan manusia.

Jurnalisme lingkungan membahas persoalan-persoalan yang seolah-olah tidak memiliki pengaruh langsung terhadap manusia itu ke hadapan publik. Sehingga, publik diharapkan mengetahui dan menyadari bahwa kehidupan mereka berada dalam ancaman. Hanya saja memang terdapat persoalan yang sangat serius ketika jurnalisme lingkungan sedang diterapkan. Gejala ini pernah diungkapkan Joseph L Bast dalam artikelnya yang berjudul Environmental Journalism: A Little Knowledge is Dangerous (2000). Menurut Bast, pengetahuan tentang lingkungan serba sedikit yang dimiliki jurnalis justru membahayakan.

Mengutip hasil pengamatan yang dijalankan Alan Caruba, seorang jurnalis ilmu pengetahuan dan pekerja pengawasan media, Bast kemudian menunjukkan empat hal utama yang disajikan media dalam meliput persoalan-persoalan lingkungan, yaitu pertama, selama lebih dari 25 tahun, kalangan reporter lingkungan mengabaikan pendapat-pendapat ilmiah yang sebenarnya sangat berbeda dengan pemikiran kalangan penganut environmentalisme; kedua, sangat sedikit jurnalis yang memiliki latar belakang pengetahuan ilmiah, sehingga mereka gampang dimanipulasi oleh kalangan aktivis lingkungan; ketiga, kelompok-kelompok aktivis atau pemerhati lingkungan meningkatkan kampanye kehumasan yang efektif dan didanai secara baik yang dimulai sejak tahun 1970 dan terus berlanjut hingga sekarang; dan keempat, desakan media untuk meningkatkan sirkulasi dan rating acapkali menjadikan media menghadirkan laporan-laporan ekologis sedramatis mungkin.

Jurnalis lingkungan yang baik harus memperhatikan pengetahuan ilmiah dan tidak mudah didikte pihak luar media yang memiliki agenda tersendiri. Semua ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada publik betapa pentingnya lingkungan yang mereka tempati. Sebagaimana dikemukakan Poshendra Satyal Pravat (dalam Preserving Environment: Role of Media, 2003), reporter yang menerapkan jurnalisme lingkungan bekerja berdasarkan pada pemikiran bahwa kesadaran publik merupakan senjata yang penting dalam menjaga lingkungan. Jurnalisme ini tidak hanya dapat memainkan peran kunci dengan melakukan investigasi dan pemberitaan mengenai isu-isu lingkungan, tetapi juga menghadirkan komentar dan analisis kritis dengan merangsang perdebatan publik. Kalangan jurnalis berperan sebagai agen-agen utama yang mampu mengubah sikap masa bodoh publik.

“Anjing penjaga”

Jurnalis yang menerapkan paham mengenai kesadaran lingkungan dapat berperan sebagai “anjing penjaga” maupun “kelompok penekan” yang mengeritik pemerintah dan korporasi yang cenderung tidak menaruh kepedulian dan bahkan dengan sistematis melakukan perusakan lingkungan. Jika selama ini ada mitos mapan bahwa kekuatan watchdog para jurnalis hanya dapat dijalankan untuk menyoroti problem-problem politis, seperti isu korupsi maupun demokratisasi, selayaknya harus diubah secara radikal. Masalah lingkungan pun bermuatan politis. Kerusakan ekologis tidak lepas dari bagaimana kekuasaan dijalankan oleh elite politik dan elite ekonomi yang bergandengan tangan menumpuk gengsi sosial dan profit finansial.

Apabila isu lingkungan mengandung muatan politis, maka dapat ditelusuri mengapa jurnalisme lingkungan jarang diterapkan pihak media. Dalam konteks persoalan lebih luas, Frank Edward Allen (dalam The Trouble with Environmental Journalism, 2000) menyatakan alasan-alasan mengapa jurnalisme lingkungan sulit dilaksanakan, yaitu: Pertama, kepemilikan modal media terkonsentrasi pada segelintir pihak. Kedua, nilai-nilai tabloidisme telah menggerus standar dan keputusan pemberitaan. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan ruang pemberitaan dalam dewan redaksi menggerogoti perbincangan publik yang sehat.

Hal itu menunjukkan bahwa jurnalisme lingkungan menghadapi kompleksitas persoalan ketika diterapkan. Problem ekonomi politik media menjadikan jurnalis tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan kasus-kasus kerusakan lingkungan. Misalnya, ada pemilik media yang memiliki perusahaan-perusahaan non-media yang mendapatkan proyek dari pemerintah. Jalinan erat birokrasi dan korporasi ini menyulitkan jurnalis mengungkap skandal degradasi ekologis yang melibatkan aparat pemerintah dan pengusaha. Kebiasaan jurnalis menonjolkan sensasionalisme dalam pemberitaan dan menjalankan liputan yang sekadar berpatokan pada peristiwa,semakin menjadikan jurnalisme lingkungan sulit direalisasikan.

Berbagai jenis bencana alam, seperti rob, banjir, tanah longsor, gelombang pasang atau suhu udara yang memanas tidak saja menyengsarakan warga, melainkan juga membuktikan bahwa jurnalisme lingkungan agak dipinggirkan atau cenderung kurang dimengerti secara baik ketika diterapkan. Apakah semua ini berarti jurnalisme lingkungan telah mati seperti halnya usia bumi yang tinggal seabad lagi? Tentu, tidak! Jurnalis dan publik memiliki tanggung jawab moral merawat satu bumi yang ditempati secara kolektif ini. Sudah saatnya jurnalisme lingkungan disegarkan lagi! (By Triyono Lukmantoro)

Penulis adalah pengajar Sosiologi Komunikasi pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang. (terbit : 3 Juli 2007/Suara Pembaruan)

Berikut ini artikel yang pernah diterbitkan Kompas beberapa tahun lalu, namun tulisan yang mengulas pentingnya peran jurnalis lingkungan dalam membantu pelestarian lingkungan di Indonesia masih relevan dengan kondisi kekinian (Red).

PERSOALAN yang tak kalah memprihatinkan dari persoalan semakin memburuknya lingkungan adalah ketidakpedulian masyarakat. Dan, yang lebih menyedihkan dari semua persoalan itu adalah minimnya perhatian media terhadap persoalan-persoalan lingkungan. Padahal mendesak untuk disampaikan kepada masyarakat apa kata pakar dalam bahasa sederhana, mengenai persoalan semakin memburuknya lingkungan yang semakin membahayakan bumi. Dunia menjelang “kiamat” sudah bisa diprediksikan dengan melihat kenyataan-kenyataan semakin memburuknya lingkungan.

Persoalan-persoalan mengenai buruknya perhatian media terhadap isu lingkungan praktis menjadi persoalan seluruh peserta Media Forum di Rapolano Terme itu.

Media lebih banyak memberi tempat terhadap berita-berita ekonomi dan politik dibanding berita lingkungan. Kalaupun ada berita isu lingkungan dalam sebuah media, hanya menempati ruang kecil saja. Padahal media sangat berpengaruh untuk menyadarkan publik agar mereka segera peduli terhadap lingkungannya, untuk bersama-sama menyelamatkan bumi, dan mencegah “kiamat” yang dipercepat oleh kerusakan-kerusakan lingkungan.

Media, juga di Indonesia, lebih merasa gemerlap dengan mengangkat isu-isu politik dan ekonomi. Halaman-halaman media maupun jam tayang televisi ataupun jam siar radio melulu banyak diisi kedua persoalan itu. Kesadaran untuk memberi tempat terhadap lingkungan sebenarnya mengemuka dari para jurnalis. “Politik dan politisi sesungguhnya tidaklah menarik. Kita cuma menabuh omong kosong mereka,” kata Tim Logheed, seorang wartawan lepas (freelance) dari Kanada. Menurut dia, saatnya semua pihak lebih peduli dan memperhatikan lingkungan.

“Publik harus secepatnya disadarkan bahwa alam semakin rusak dan jika dibiarkan hasilnya cuma bencana,” katanya. Saatnya juga memberi tempat kepada para pakar, peneliti, dan para pencinta lingkungan yang berjuang menyelamatkan bumi dengan segala cara. Menurut Tim, merekalah yang sebenarnya dikenalkan kepada publik agar masyarakat juga sadar dan segera mengikuti dan mempedulikan persoalan lingkungan.

PERSOALAN-persoalan internal media adalah sedikitnya pengelola media memberi halaman atau ruang yang memadai untuk isu lingkungan. Selain itu, kepemilikan sejumlah politisi atau pengusaha dalam usaha media juga sering kali mempersulit jurnalis atau media yang bersangkutan memuat isu-isu lingkungan yang menyangkut kepentingan pemilik. Seorang wartawan dari Brasil mencontohkan, persoalan itu terjadi ketika sebuah isu lingkungan terjadi di sebuah provinsi negerinya.

Namun media setempat tidak bisa melakukan apa-apa atau memberitakannya karena pemilik koran itu, yang kebetulan seorang gubernur, tidak mau persoalan itu dipublikasikan di medianya. Sebenarnya kejadian serupa pernah terjadi di Indonesia, ketika sebuah kasus reklamasi pantai mengusik perhatian masyarakat, namun sebuah media tidak berkutik karena pemilik saham media mereka, tidak lain dari pemilik pengembang yang melakukan proyek reklamasi yang belakangan terbukti menyebabkan banjir semakin parah itu.

Politisi dan para pengelola negara juga-termasuk di Indonesia, tentu saja-adalah persoalan tersendiri. “Mana peduli mereka terhadap lingkungan! Satu hal yang mereka pedulikan adalah hanya posisi mereka,” kata Lucia Martinez, seorang jurnalis dari City Living di New York. Untuk itu diperlukan sebuah upaya memobilisasi publik untuk menyadari pentingnya lingkungan dan menjaganya dari kerusakan.

Dalam sharing dengan para jurnalis dari berbagai negara itu, arogansi para pengelola negara juga menjadi penyebab terhambatnya penyebaran informasi mengenai lingkungan. Sering kali para pejabat menyembunyikan data- data kerusakan lingkungan dengan berbagai alasan.

Namun, sebenarnya hal tersebut bagi wartawan bukan persoalan yang terlalu serius, karena data mengenai itu bisa didapat langsung di lapangan atau menjalin kerja sama dengan para penggiat lingkungan atau lembaga swadaya masyarakat. “Yang menjadi persoalan adalah ketidakpedulian para pejabat itu sendiri,” kata Nakabugu Sylvia, jurnalis dari Uganda. Saatnya jurnalis dan para penggiat media di mana pun untuk mengetuk hati para pejabat itu untuk segera mempedulikan lingkungan.

Mungkin ada benarnya apa yang dikemukakan Sawadogo Mousa, seorang wartawan dari Burkinabe, bahwa jika orang berbicara mengenai majunya sebuah negara, persoalan demokrasi sering kali menjadi tolok ukur. Padahal, demokrasi itu semestinya tidak semata-mata semua orang berhak berbicara, memilih dan dipilih, tetapi juga demokrasi yang baik adalah juga bagaimana semua warga mendapat pendidikan yang baik, termasuk persoalan lingkungan. Dalam posisi demikian, jurnalis bisa menempatkan diri sebagai layaknya “guru” yang memberi pengetahuan kepada publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan menyadarkan mereka akan kerusakan-kerusakan lingkungan yang semakin memburuk.

MAJALAH City Living, yang diterbitkan di New York, AS, misalnya, mencoba menyadarkan pembacanya mengenai lingkungan dimulai dari hal-hal kecil, yang bisa dilakukan segala usia. “Kita mulai dari anak-anak, misalnya, bagaimana memilah sampah yang bisa didaur ulang, “kata Martinez Lucia, seorang pengelolanya. Bisa juga menggunakan tokoh-tokoh atau ikon idola masyarakat untuk mengajak atau mengampanyekan persoalan-persoalan lingkungan kepada publik. Tokoh kartun bisa menjangkau anak-anak untuk keperluan yang sama.

Angela Sanchez dari Kolombia, Amerika Selatan, mempersoalkan, persoalan yang selalu menarik perhatian publik adalah masalah hak asasi manusia dibandingkan persoalan lingkungan. Media sebenarnya bisa menulis dalam perspektif yang lebih luas bahwa kerusakan-kerusakan lingkungan juga menyebabkan banyak pelanggaran hak asasi manusia. Persoalan lingkungan bukan semata-mata persoalan eksploitasi alam yang habis-habisan. Akan tetapi di dalamnya juga menyangkut kepentingan ekonomi dan politik.

Jalan keluar, pada akhirnya persoalan lingkungan tidak lagi dianggap sebagai sebuah persoalan lokal belaka, namun sudah merupakan masalah global karena kita berada di bumi yang sama. Untuk itulah, kesulitan-kesulitan mem- blow up sebuah isu lingkungan di sebuah negara bisa di-share untuk dipublikasikan di belahan bumi lain. Dunia digital dan Internet memungkinkan semua itu. Apalagi, kita berbagai asosiasi wartawan lingkungan bisa saling bertukar persoalan, dan bagaimana sebuah persoalan lingkungan lokal di sebuah negara bisa menjadi isu global yang semestinya menarik perhatian dunia untuk segera menyikapinya dengan serius. Bagaimanapun kita hidup di bumi yang sama, yang harus bersama-sama dijaga kelestariannya. Kerusakan di satu belahan bumi juga berpengaruh terhadap kerusakan di belahan bumi lainnya.

Sejumlah perkumpulan wartawan atau penulis lingkungan memang sudah lama berdiri. Mereka yang berada di berbagai belahan bumi dan mereka biasa saling bertukar informasi mengenai persoalan-persoalan lingkungan. Di akhir pertemuan Media Forum di Rapolano itu para peserta pertemuan menandatangani sebuah kesepakatan. Mereka akan saling berbagai informasi, data, dan bertukar pengalaman isu-isu lingkungan di berbagai belahan bumi.

Bagi media, lingkungan adalah tantangan terbesar bagi media. Saatnya dibukakan mata penduduk bumi, alam semakin menua, iklim berubah, polusi menyesakkan,banyak spesies- spesies bumi terus menghilang, hutan menggurun akibat penebangan yang membabi buta, permukaan air laut terus meningkat, jumlah penduduk meningkat, dan kebutuhan pangan menipis. Semua itu bukan mimpi buruk, namun adalah kenyataan-kenyataan yang sudah dihadapi bersama.

Bagaimanapun upaya menyadarkan publik dan pengelola negara bahwa kerusakan alam sudah demikian serius masih perlu melewati jalan panjang. Dan untuk itu, semua diperlukan kesadaran lebih bahwa kita hidup di bumi yang sama….(USH/Kompas)

BENCANA lingkungan kian mengancam kehidupan, tapi mengapa media masih kurang tertarik pada isu-isu lingkungan hidup? Pertanyaan seperti inilah yang selalu muncul pada setiap kesempatan orang memperbincangkan kontribusi pers bagi pelestarian lingkungan.

Gugatan terhadap peran media karena tidak menggali masalah lingkungan secara mendalam, memang sulit dielakkan. Dalam pemberitaan soal lingkungan hidup, media cenderung lebih menyoroti akibat dari kerusakan lingkungan seperti, banjir, air pasang, abrasi pantai, tanah longsor dan sebagainya.

Sementara akar penyebab degradasi lingkungan kurang mendapat perhatian. Bahkan, kalaupun hal itu diulas, pers cenderung mengedepankan faktor alam, seperti perubahan iklim, cuaca buruk, kondisi geografi dan sebagainya. Sementara faktor manusia hanya disingung sepintas lalu.

Perhatikan saja, materi berita dimedia cetak maupun elektronik, problem fundamental penyebab degradasi ekologis sangat langka dijadikan prioritas agenda pemberitaan. Bahkan dalam hal ini pers cenderung lebih dominan menunjukkan sikap reaktif yang bersifat sesaat, dan bukan karakter antisipatif, terhadap persoalan lingkungan.

Intensitas pemberitaan media kerap meredup ketika sudah tak ada bencana alam menerjang yang mengakibatkan korban-korban manusia berjatuhan dan harta benda mengalami kehancuran. Responsi terhadap pemanasan global, misalnya, hingga kini tampak masih kurang memperoleh penyikapan yang, bermakna dan mendalam dari sebagian besar media di lndonesia. Padahal, kehancuran ekologis pads level global memiliki dampak serius pada kerusakan lingkungan secara keseluruhan.

Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektf. jurnalisme linqkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan. Kemasan berita seakan-akan masalah lingkungan tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia tentu harus diubah. Sebab lazimnya, publik akan tertarik terhadap isu-isu yang dampaknya langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kendala
Banyak kalangan berharap, dalam masalah lingkungan hidup pers dapat berperan, balk sebaga “anjing, penjaga” maupun “kelompok penekan” yang mengeritik pemerintah dan korporasi yang cenderung tidak menaruh kepedulian dan bahkan dengan sistematis melakukan perusakan lingkungan.

Jika selama ini ada mitos mapan bahwa kekuatan watchdog media hanya dapat dijalankan untuk menyoroti problem-problem politis, seperti isu korupsi maupun demokratisasi, selayaknya harus diubah secara radikal. Masalah lingkungan pun bermuatan politis. Kerusakan ekologis tidak lepas dari bagaimana kekuasaan dijalankan oleh elite politik dan elite ekonomi yang bergandengan tangan menumpuk gengsi sosial dan profit financial.

Apabila isu lingkungan mengandung muatan politis, sesungguhnya ada beberapa faktor penyebab sehingga media tidak dapat berperan sebagaimana mestinya, yakni Pertama, kepemilikan modal media terkonsentrasi pada segelintir pihak. Kedua, nilai-nilai tabloidisme telah menggerus standar dan keputusan pemberitaan. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan ruang pemberitaan dalam dewan redaksi menggerogoti perbincangan publik yang sehat.

Problem ekonomi politik media menjadikan wartawan tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan kasus-kasus kerusakan lingkungan, karena kemungkinan ada pemilik media yang memiliki perusahaan-perusahaan non-media yang mendapatkan proyek dari pemerintah.

Jalinan erat birokrasi dan korporasi ini menyulitkan para wartawan mengungkap skandal degradasi ekologis yang melibatkan aparat pemerintah dan pengusaha. Kebiasaan wartawan menonjolkan sensasionalisme dalam pemberitaan dan menjalankan liputan yang sekadar berpatokan pada peristiwa, semakin menjadikan jurnalisme lingkungan sulit direalisasikan. (KSP-04/Koran Surya Pagi)

Sudah satu minggu ini para blogger Indonesia dihantui rasa was-was, karena Pemerintah RI melakukan sensor blog terhadap blog-blog social seperti Youtube dan Multiply, dengan dalih menertibkan penyebaran film porno dan film fitna, namun sayangnya penertiban blog itu tak memilih conten atau isi blog, tapi digeneralisir semua, padahal banyak blogger yang menyungguhkan informasi positif yang mencerahkan. seperti blog lingkungan hidup, blog berita, kemanusian, religi dan lain-lain.

Kejadian ini membuat blogger Indonesia yang selama ini menggunakan blog free merasa was-was, karena makin nggak jelas jaminan keberlanjutan blog mereka. Namun sebaliknya ini menguntungkan bagi para penyedia hosting dan domain karena mungkin akan banyak blogger yang beralih mendaftar diri ke situs blog komersil.

Komunitas blogger Indonesia mesti bersatu mengadvokasi pemerintah agar tidak lagi mensensor aktivitas blog, mengingat keberadaan blog juga turut mencerdaskan publik lewat sharing informasi antar blogger yang bisa diakses oleh publik secara gratis serta mendorong terciptanya publik untuk menjadi citizen journalist.

Kalau hal tersebut dibiarkan, mungkin wordpress dan blogspot juga akan bernasib sama dengan Youtube dan Multply, karenanya perlu ada agenda bersama untuk melawan sensor blog.“Bersatulah Blogger Indonesia Lawan Sensor Blog”. (Marwan Azis)

Halaman Berikutnya »