Panduan Liputan & Penulisan


Oleh M Badri

Jurnalisme lingkungan dapat didefinisikan sebagai proses kerja jurnalisme melalui pengumpulan, verifikasi, distribusi dan penyampaian informasi terbaru berkaitan dengan berbagai peristiwa, kecenderungan, dan permasalahan masyarakat, yang berhubungan dengan dunia non-manusia di mana manusia berinteraksi didalamnya.

Dalam interaksi antarkomponen lingkungan, wartawan diharapkan harus “memihak” kepada proses-proses yang meminimalkan dampak negatif kerusakan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, wartawan lingkungan perlu menumbuhkan sikap: (lagi…)

Oleh : Muh. Irfan Handeputra *

Pengenalan

Menurut John Palen dari Department of Journalism,
Universitas Michigan Tengah, dalam papernya mengenai “membentuk
masyarakat jurnalisme lingkungan”, Jurnalisme Lingkungan muncul ketika
para jurnalis harus mengemukakan permasalahan-permasalahan berkaitan
dengan lingkungan seperti dioxin, kabut asap, satwa terancam punah
serta pemanasan bumi. (lagi…)

Kita semua pasti pernah melakukan perjalanan, entah ke luar kota, entah ke mancanegara, entah ke kutub selatan dan utara, atau cuma menengok kerabat di kampung sebelah. Nah, sudahkah Anda mendokumentasikan kisah perjalanan Anda dalam sebuah tulisan?

Berikut tips dari Bung Akmal, wartawan Tempo di milis apsas yang ia kelola:

Melakukan perjalanan (ke luar kota, luar negeri) baik untuk kepentingan pekerjaan atau sekadar hobi pribadi, merupakan aktivitas yang sangat menarik.Banyak manfaat yang bisa diambil. para prosais dan penyair merekonstruksi ulang perjalanan itu dalam pelbagai bentuk kreatif. fotografer mengabadikannya dalam komposisi-komposisi visual.

Salah satu bentuk yang lebih umum, dan lebih cepat dikerjakan, adalah catatan perjalanan (bisa juga disebut “kisah perjalanan” atau apa pun nama lainnya), yang bisa dengan lekas dipublikasikan di media cetak umum. Melihat tingginya dinamika perjalanan anggota milis apsas, saya sarankan apsasian untuk membiasakan diri membuat sebuah catatan perjalanan yang bisa dipublikasikan bagi pembaca umum. salah satu kiat untuk ini diberikan oleh martin li, seorang penulis perjalanan dan fotografer asal Inggris yang biasa menulis untuk travel intelligence, london.

inilah beberapa poin utama dari :

Tulisan perjalanan adalah bagian dari reportase, bagian dari catatan harian, dan bagian dari penyediaan informasi bagi pelancong atau mereka yang hendak melakukan perjalanan. penulis perjalanan melakukannya dengan beragam gaya dan teknik yang berbeda.

Dari sisi pembaca, tatkala membaca tulisan perjalanan, mereka mungkin berharap bisa turut merasakan apa yang dialami penulis. aa melibatkan diri dalam tulisan dengan mengungkapkan pengalamannya ketika melakukan perjalanan.

Tentu, seorang penulis kisah perjalanan tidak sekadar menceritakan pengalamannya, tetapi juga mendeskripsikan tempat dan aktivitasnya. Dengan demikian, pembaca selain turut merasakan pengalaman penulis, juga mendapat informasi tentang lokasi yang menjadi tujuan perjalanan serta peristiwa yang menyertainya.

Berikut beberapa tips untuk membuat tulisan perjalanan.

1. segarberikan sudut pandang yang segar, jika mungkin, meliputi beberapa pokok permasalahan yang tidak biasa. kreatiflah dalam menulis perjalanan, termasuk dalam menggunakan gaya bahasa seperti metafora dan simile yang penuh daya dan orisinal.

2.personal
ambil pendekatan sendiri untuk sebuah tempat yang dikunjungi, sebuah
aktivitas yang anda coba lakukan atau sebuah petualangan mendebarkan yang
sedang anda kerjakan. apa yang sesungguhnya menginspirasi anda? Kenali dan
jelaskan kepada pembaca.

Cerita harus memiliki suara dan sudut pandang personal. ingatlah bahwa sebagian besar tempat yang anda tulis, sangat mungkin sebelumnya SUDAH ditulis orang lain. Ini merupakan tantangan untuk mendapatkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk dikatakan kepada pembaca.

3.jenaka
tulisan perjalanan hendaknya memiliki sebuah nada yang cerah, cemerlang, hidup, dan jenaka. perjalanan adalah sebuah proses berangkat dari yang familiar menuju kepada yang asing dan

tidak familiar, sering kaya akan peristiwa komedi dan jenaka.

Masukkan komedi ke dalam tulisan di tempat yang patut dan jangan takut membuat pembaca tertawa. Juga, jangan takut untuk memasukkan ”kecelakaan”, misalnya, ke dalam bagian-bagian tulisan.tak perlu ‘jaim’. Ini dapat menjadi seperti bacaan berharga.

4.surprise
Beri kejutkan kepada pembaca. berikan pembaca sesuatu yang tidak biasa,
sesuatu yang hanya diketahui sedikit orang—tentang suatu lokasi misalnya.
lakukan ini dengan mencoba aktivitas yang tidak biasa, bertemu dengan
orang-orang yang baru, terlibat ke dalam adegan yang asing ketika
berada dalam sebuah perjalanan.

5.seimbang
tulisan perjalanan harus memadukan observasi personal, deskripsi dan komentar
dengan informasi praktis yang berguna bagi pembaca. jadi, ada keseimbangan
yang cermat antara pengalaman personal, deskripsi lokasi, deskripsi kegiatan
atau peristiwa. dan ingat bahwa saat menulis sebuah kisah perjalanan, anda juga seorang wartawan sehingga akurasi fakta tetap harus diperhatikan.

6.kutipan
untuk memperkaya tulisan kutip komentar teman perjalanan atau pengunjung suatu kegiatan atau lokasi. silakan mereka mengekspresikan perasaan mereka, kengerian, atau ketakjuban

mereka tentang suatu tempat atau kegiatan yang sedang berlangsung.

Lalu, setelah sebuah tulisan perjalanan selesai digubah, mau dikemanakan? dipampang di blog pribadi, oke-oke saja. dikirimkan ke media umum, juga tak ada salahnya. Jangan lupa berikut foto (dalam format jpg). jika dimuat, honornya tentu lumayan buat merencanakan perjalanan berikutnya. :)

Jadi tunggu apa lagi? mau jalan-jalan ke pelosok negeri? mau mampir sebentar (lama juga boleh) ke luar negeri, all

welcome.

salam kreatif,

Ini ada artikel menarik yang menyorot kepekaan media dan jurnalis lingkungan dalam berbagai persoalan lingkungan yang melilit tanah air yang ditulis Oleh Pak Triyono Lukmantoro. Tulisan ini pernah diterbitkan Suara Pembaharuan (Red)

Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sedang mengemuka. Muncul pro dan kontra di sana. Kalangan pakar yang berasal dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) merupakan pihak yang selalu berupaya mendorong realisasi pendirian PLTN. Sebaliknya, masyarakat dan kalangan aktivis lingkungan menolaknya. Buktinya, ribuan warga Kota Kudus, yang didukung kalangan aktivis, berdemonstrasi menentang rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara.

Penolakan itu didasari pertimbangan bahwa PLTN memiliki efek buruk bagi keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup di darat, air, serta udara baik dalam rentang waktu yang pendek maupun rentang waktu yang panjang. Masyarakat tampaknya memiliki pemahaman bahwa PLTN memberikan lebih banyak kerugian ketimbang manfaat jika dilihat dari perspektif ekonomis maupun ekologis. Kesadaran masyarakat itu harus ditanggapi secara positif.

Pada dasarnya, persoalan kerusakan lingkungan bukan saja akibat didirikannya PLTN. Protes terhadap pembangunan PLTN selayaknya juga mampu mengingatkan kita semua tentang bumi yang ditempati manusia tidak akan berusia lama. Pemanasan global dan semakin merosotnya kualitas lingkungan menjadikan kurun satu abad ke depan sebagai one final century (abad kita yang terakhir).

Apa yang dapat dijalankan institusi media massa untuk memberikan respon terhadap bumi manusia yang semakin mengalami kerusakan? Seharusnya kalangan pekerja media (jurnalis) lebih intensif untuk menyoroti akar persoalan degradasi ekologis. Gejala yang tampak selama ini menunjukkan bahwa lembaga media kurang memberikan kepedulian pada masalah-masalah lingkungan. Bahkan, jurnalisme lingkungan terasa asing bagi lembaga media.

Fenomena ini dapat disimak pada pemberitaan-pemberitaan yang disajikan media terhadap masalah lingkungan. Ekspose yang lazim disajikan pihak media hanya mengungkapkan akibat-akibat kerusakan lingkungan, seperti rob (limpasan air laut ke wilayah daratan), banjir bandang, gelombang pasang, tanah longsor, angin puting beliung, atau suhu udara yang memanas. Pihak media jarang menyoroti sebab-sebab terjadinya bencana alam. Problem fundamental yang menyebabkan degradasi ekologis sangat langka dijadikan prioritas agenda pemberitaan. Boleh dikatakan bahwa pihak media lebih dominan menunjukkan sikap reaktif yang bersifat sesaat, dan bukan karakter antisipatif, terhadap persoalan lingkungan.

Kesadaran Publik

Ketika tidak ada bencana alam menerjang yang mengakibatkan korban-korban manusia berjatuhan dan harta benda mengalami kehancuran, media lebih banyak memilih sikap diam dan kurang tanggap. Simaklah bagaimana isu pemanasan global ditanggapi secara kurang berarti. Padahal, kehancuran ekologis pada level global memiliki dampak serius pada kerusakan lingkungan secara keseluruhan. Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektif jurnalisme lingkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan.

Dapatkah diberikan suatu konklusi awal bahwa jurnalisme lingkungan sedang mengalami kematian? Untuk menyatakan jurnalisme lingkungan sedang mengalami kematian tampaknya memang terlalu dini dan sangat gegabah. Kemungkinan lebih tepat jika disebutkan bahwa jurnalisme lingkungan kurang mendapatkan tempat yang baik dalam pemberitaan-pemberitaan media. Sebabnya adalah jurnalisme lingkungan lebih banyak menyoroti aspek-aspek non-manusia, seperti air, udara, serta tanah yang dilihat dari segi nilai berita memang rendah. Padahal, semua hal yang diposisikan seakan-akan sebagai benda-benda mati itu berinteraksi dengan kehidupan manusia.

Jurnalisme lingkungan membahas persoalan-persoalan yang seolah-olah tidak memiliki pengaruh langsung terhadap manusia itu ke hadapan publik. Sehingga, publik diharapkan mengetahui dan menyadari bahwa kehidupan mereka berada dalam ancaman. Hanya saja memang terdapat persoalan yang sangat serius ketika jurnalisme lingkungan sedang diterapkan. Gejala ini pernah diungkapkan Joseph L Bast dalam artikelnya yang berjudul Environmental Journalism: A Little Knowledge is Dangerous (2000). Menurut Bast, pengetahuan tentang lingkungan serba sedikit yang dimiliki jurnalis justru membahayakan.

Mengutip hasil pengamatan yang dijalankan Alan Caruba, seorang jurnalis ilmu pengetahuan dan pekerja pengawasan media, Bast kemudian menunjukkan empat hal utama yang disajikan media dalam meliput persoalan-persoalan lingkungan, yaitu pertama, selama lebih dari 25 tahun, kalangan reporter lingkungan mengabaikan pendapat-pendapat ilmiah yang sebenarnya sangat berbeda dengan pemikiran kalangan penganut environmentalisme; kedua, sangat sedikit jurnalis yang memiliki latar belakang pengetahuan ilmiah, sehingga mereka gampang dimanipulasi oleh kalangan aktivis lingkungan; ketiga, kelompok-kelompok aktivis atau pemerhati lingkungan meningkatkan kampanye kehumasan yang efektif dan didanai secara baik yang dimulai sejak tahun 1970 dan terus berlanjut hingga sekarang; dan keempat, desakan media untuk meningkatkan sirkulasi dan rating acapkali menjadikan media menghadirkan laporan-laporan ekologis sedramatis mungkin.

Jurnalis lingkungan yang baik harus memperhatikan pengetahuan ilmiah dan tidak mudah didikte pihak luar media yang memiliki agenda tersendiri. Semua ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada publik betapa pentingnya lingkungan yang mereka tempati. Sebagaimana dikemukakan Poshendra Satyal Pravat (dalam Preserving Environment: Role of Media, 2003), reporter yang menerapkan jurnalisme lingkungan bekerja berdasarkan pada pemikiran bahwa kesadaran publik merupakan senjata yang penting dalam menjaga lingkungan. Jurnalisme ini tidak hanya dapat memainkan peran kunci dengan melakukan investigasi dan pemberitaan mengenai isu-isu lingkungan, tetapi juga menghadirkan komentar dan analisis kritis dengan merangsang perdebatan publik. Kalangan jurnalis berperan sebagai agen-agen utama yang mampu mengubah sikap masa bodoh publik.

“Anjing penjaga”

Jurnalis yang menerapkan paham mengenai kesadaran lingkungan dapat berperan sebagai “anjing penjaga” maupun “kelompok penekan” yang mengeritik pemerintah dan korporasi yang cenderung tidak menaruh kepedulian dan bahkan dengan sistematis melakukan perusakan lingkungan. Jika selama ini ada mitos mapan bahwa kekuatan watchdog para jurnalis hanya dapat dijalankan untuk menyoroti problem-problem politis, seperti isu korupsi maupun demokratisasi, selayaknya harus diubah secara radikal. Masalah lingkungan pun bermuatan politis. Kerusakan ekologis tidak lepas dari bagaimana kekuasaan dijalankan oleh elite politik dan elite ekonomi yang bergandengan tangan menumpuk gengsi sosial dan profit finansial.

Apabila isu lingkungan mengandung muatan politis, maka dapat ditelusuri mengapa jurnalisme lingkungan jarang diterapkan pihak media. Dalam konteks persoalan lebih luas, Frank Edward Allen (dalam The Trouble with Environmental Journalism, 2000) menyatakan alasan-alasan mengapa jurnalisme lingkungan sulit dilaksanakan, yaitu: Pertama, kepemilikan modal media terkonsentrasi pada segelintir pihak. Kedua, nilai-nilai tabloidisme telah menggerus standar dan keputusan pemberitaan. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan ruang pemberitaan dalam dewan redaksi menggerogoti perbincangan publik yang sehat.

Hal itu menunjukkan bahwa jurnalisme lingkungan menghadapi kompleksitas persoalan ketika diterapkan. Problem ekonomi politik media menjadikan jurnalis tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan kasus-kasus kerusakan lingkungan. Misalnya, ada pemilik media yang memiliki perusahaan-perusahaan non-media yang mendapatkan proyek dari pemerintah. Jalinan erat birokrasi dan korporasi ini menyulitkan jurnalis mengungkap skandal degradasi ekologis yang melibatkan aparat pemerintah dan pengusaha. Kebiasaan jurnalis menonjolkan sensasionalisme dalam pemberitaan dan menjalankan liputan yang sekadar berpatokan pada peristiwa,semakin menjadikan jurnalisme lingkungan sulit direalisasikan.

Berbagai jenis bencana alam, seperti rob, banjir, tanah longsor, gelombang pasang atau suhu udara yang memanas tidak saja menyengsarakan warga, melainkan juga membuktikan bahwa jurnalisme lingkungan agak dipinggirkan atau cenderung kurang dimengerti secara baik ketika diterapkan. Apakah semua ini berarti jurnalisme lingkungan telah mati seperti halnya usia bumi yang tinggal seabad lagi? Tentu, tidak! Jurnalis dan publik memiliki tanggung jawab moral merawat satu bumi yang ditempati secara kolektif ini. Sudah saatnya jurnalisme lingkungan disegarkan lagi! (By Triyono Lukmantoro)

Penulis adalah pengajar Sosiologi Komunikasi pada Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang. (terbit : 3 Juli 2007/Suara Pembaruan)

Berikut ini artikel yang pernah diterbitkan Kompas beberapa tahun lalu, namun tulisan yang mengulas pentingnya peran jurnalis lingkungan dalam membantu pelestarian lingkungan di Indonesia masih relevan dengan kondisi kekinian (Red).

PERSOALAN yang tak kalah memprihatinkan dari persoalan semakin memburuknya lingkungan adalah ketidakpedulian masyarakat. Dan, yang lebih menyedihkan dari semua persoalan itu adalah minimnya perhatian media terhadap persoalan-persoalan lingkungan. Padahal mendesak untuk disampaikan kepada masyarakat apa kata pakar dalam bahasa sederhana, mengenai persoalan semakin memburuknya lingkungan yang semakin membahayakan bumi. Dunia menjelang “kiamat” sudah bisa diprediksikan dengan melihat kenyataan-kenyataan semakin memburuknya lingkungan.

Persoalan-persoalan mengenai buruknya perhatian media terhadap isu lingkungan praktis menjadi persoalan seluruh peserta Media Forum di Rapolano Terme itu.

Media lebih banyak memberi tempat terhadap berita-berita ekonomi dan politik dibanding berita lingkungan. Kalaupun ada berita isu lingkungan dalam sebuah media, hanya menempati ruang kecil saja. Padahal media sangat berpengaruh untuk menyadarkan publik agar mereka segera peduli terhadap lingkungannya, untuk bersama-sama menyelamatkan bumi, dan mencegah “kiamat” yang dipercepat oleh kerusakan-kerusakan lingkungan.

Media, juga di Indonesia, lebih merasa gemerlap dengan mengangkat isu-isu politik dan ekonomi. Halaman-halaman media maupun jam tayang televisi ataupun jam siar radio melulu banyak diisi kedua persoalan itu. Kesadaran untuk memberi tempat terhadap lingkungan sebenarnya mengemuka dari para jurnalis. “Politik dan politisi sesungguhnya tidaklah menarik. Kita cuma menabuh omong kosong mereka,” kata Tim Logheed, seorang wartawan lepas (freelance) dari Kanada. Menurut dia, saatnya semua pihak lebih peduli dan memperhatikan lingkungan.

“Publik harus secepatnya disadarkan bahwa alam semakin rusak dan jika dibiarkan hasilnya cuma bencana,” katanya. Saatnya juga memberi tempat kepada para pakar, peneliti, dan para pencinta lingkungan yang berjuang menyelamatkan bumi dengan segala cara. Menurut Tim, merekalah yang sebenarnya dikenalkan kepada publik agar masyarakat juga sadar dan segera mengikuti dan mempedulikan persoalan lingkungan.

PERSOALAN-persoalan internal media adalah sedikitnya pengelola media memberi halaman atau ruang yang memadai untuk isu lingkungan. Selain itu, kepemilikan sejumlah politisi atau pengusaha dalam usaha media juga sering kali mempersulit jurnalis atau media yang bersangkutan memuat isu-isu lingkungan yang menyangkut kepentingan pemilik. Seorang wartawan dari Brasil mencontohkan, persoalan itu terjadi ketika sebuah isu lingkungan terjadi di sebuah provinsi negerinya.

Namun media setempat tidak bisa melakukan apa-apa atau memberitakannya karena pemilik koran itu, yang kebetulan seorang gubernur, tidak mau persoalan itu dipublikasikan di medianya. Sebenarnya kejadian serupa pernah terjadi di Indonesia, ketika sebuah kasus reklamasi pantai mengusik perhatian masyarakat, namun sebuah media tidak berkutik karena pemilik saham media mereka, tidak lain dari pemilik pengembang yang melakukan proyek reklamasi yang belakangan terbukti menyebabkan banjir semakin parah itu.

Politisi dan para pengelola negara juga-termasuk di Indonesia, tentu saja-adalah persoalan tersendiri. “Mana peduli mereka terhadap lingkungan! Satu hal yang mereka pedulikan adalah hanya posisi mereka,” kata Lucia Martinez, seorang jurnalis dari City Living di New York. Untuk itu diperlukan sebuah upaya memobilisasi publik untuk menyadari pentingnya lingkungan dan menjaganya dari kerusakan.

Dalam sharing dengan para jurnalis dari berbagai negara itu, arogansi para pengelola negara juga menjadi penyebab terhambatnya penyebaran informasi mengenai lingkungan. Sering kali para pejabat menyembunyikan data- data kerusakan lingkungan dengan berbagai alasan.

Namun, sebenarnya hal tersebut bagi wartawan bukan persoalan yang terlalu serius, karena data mengenai itu bisa didapat langsung di lapangan atau menjalin kerja sama dengan para penggiat lingkungan atau lembaga swadaya masyarakat. “Yang menjadi persoalan adalah ketidakpedulian para pejabat itu sendiri,” kata Nakabugu Sylvia, jurnalis dari Uganda. Saatnya jurnalis dan para penggiat media di mana pun untuk mengetuk hati para pejabat itu untuk segera mempedulikan lingkungan.

Mungkin ada benarnya apa yang dikemukakan Sawadogo Mousa, seorang wartawan dari Burkinabe, bahwa jika orang berbicara mengenai majunya sebuah negara, persoalan demokrasi sering kali menjadi tolok ukur. Padahal, demokrasi itu semestinya tidak semata-mata semua orang berhak berbicara, memilih dan dipilih, tetapi juga demokrasi yang baik adalah juga bagaimana semua warga mendapat pendidikan yang baik, termasuk persoalan lingkungan. Dalam posisi demikian, jurnalis bisa menempatkan diri sebagai layaknya “guru” yang memberi pengetahuan kepada publik mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan menyadarkan mereka akan kerusakan-kerusakan lingkungan yang semakin memburuk.

MAJALAH City Living, yang diterbitkan di New York, AS, misalnya, mencoba menyadarkan pembacanya mengenai lingkungan dimulai dari hal-hal kecil, yang bisa dilakukan segala usia. “Kita mulai dari anak-anak, misalnya, bagaimana memilah sampah yang bisa didaur ulang, “kata Martinez Lucia, seorang pengelolanya. Bisa juga menggunakan tokoh-tokoh atau ikon idola masyarakat untuk mengajak atau mengampanyekan persoalan-persoalan lingkungan kepada publik. Tokoh kartun bisa menjangkau anak-anak untuk keperluan yang sama.

Angela Sanchez dari Kolombia, Amerika Selatan, mempersoalkan, persoalan yang selalu menarik perhatian publik adalah masalah hak asasi manusia dibandingkan persoalan lingkungan. Media sebenarnya bisa menulis dalam perspektif yang lebih luas bahwa kerusakan-kerusakan lingkungan juga menyebabkan banyak pelanggaran hak asasi manusia. Persoalan lingkungan bukan semata-mata persoalan eksploitasi alam yang habis-habisan. Akan tetapi di dalamnya juga menyangkut kepentingan ekonomi dan politik.

Jalan keluar, pada akhirnya persoalan lingkungan tidak lagi dianggap sebagai sebuah persoalan lokal belaka, namun sudah merupakan masalah global karena kita berada di bumi yang sama. Untuk itulah, kesulitan-kesulitan mem- blow up sebuah isu lingkungan di sebuah negara bisa di-share untuk dipublikasikan di belahan bumi lain. Dunia digital dan Internet memungkinkan semua itu. Apalagi, kita berbagai asosiasi wartawan lingkungan bisa saling bertukar persoalan, dan bagaimana sebuah persoalan lingkungan lokal di sebuah negara bisa menjadi isu global yang semestinya menarik perhatian dunia untuk segera menyikapinya dengan serius. Bagaimanapun kita hidup di bumi yang sama, yang harus bersama-sama dijaga kelestariannya. Kerusakan di satu belahan bumi juga berpengaruh terhadap kerusakan di belahan bumi lainnya.

Sejumlah perkumpulan wartawan atau penulis lingkungan memang sudah lama berdiri. Mereka yang berada di berbagai belahan bumi dan mereka biasa saling bertukar informasi mengenai persoalan-persoalan lingkungan. Di akhir pertemuan Media Forum di Rapolano itu para peserta pertemuan menandatangani sebuah kesepakatan. Mereka akan saling berbagai informasi, data, dan bertukar pengalaman isu-isu lingkungan di berbagai belahan bumi.

Bagi media, lingkungan adalah tantangan terbesar bagi media. Saatnya dibukakan mata penduduk bumi, alam semakin menua, iklim berubah, polusi menyesakkan,banyak spesies- spesies bumi terus menghilang, hutan menggurun akibat penebangan yang membabi buta, permukaan air laut terus meningkat, jumlah penduduk meningkat, dan kebutuhan pangan menipis. Semua itu bukan mimpi buruk, namun adalah kenyataan-kenyataan yang sudah dihadapi bersama.

Bagaimanapun upaya menyadarkan publik dan pengelola negara bahwa kerusakan alam sudah demikian serius masih perlu melewati jalan panjang. Dan untuk itu, semua diperlukan kesadaran lebih bahwa kita hidup di bumi yang sama….(USH/Kompas)

BENCANA lingkungan kian mengancam kehidupan, tapi mengapa media masih kurang tertarik pada isu-isu lingkungan hidup? Pertanyaan seperti inilah yang selalu muncul pada setiap kesempatan orang memperbincangkan kontribusi pers bagi pelestarian lingkungan.

Gugatan terhadap peran media karena tidak menggali masalah lingkungan secara mendalam, memang sulit dielakkan. Dalam pemberitaan soal lingkungan hidup, media cenderung lebih menyoroti akibat dari kerusakan lingkungan seperti, banjir, air pasang, abrasi pantai, tanah longsor dan sebagainya.

Sementara akar penyebab degradasi lingkungan kurang mendapat perhatian. Bahkan, kalaupun hal itu diulas, pers cenderung mengedepankan faktor alam, seperti perubahan iklim, cuaca buruk, kondisi geografi dan sebagainya. Sementara faktor manusia hanya disingung sepintas lalu.

Perhatikan saja, materi berita dimedia cetak maupun elektronik, problem fundamental penyebab degradasi ekologis sangat langka dijadikan prioritas agenda pemberitaan. Bahkan dalam hal ini pers cenderung lebih dominan menunjukkan sikap reaktif yang bersifat sesaat, dan bukan karakter antisipatif, terhadap persoalan lingkungan.

Intensitas pemberitaan media kerap meredup ketika sudah tak ada bencana alam menerjang yang mengakibatkan korban-korban manusia berjatuhan dan harta benda mengalami kehancuran. Responsi terhadap pemanasan global, misalnya, hingga kini tampak masih kurang memperoleh penyikapan yang, bermakna dan mendalam dari sebagian besar media di lndonesia. Padahal, kehancuran ekologis pads level global memiliki dampak serius pada kerusakan lingkungan secara keseluruhan.

Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektf. jurnalisme linqkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan. Kemasan berita seakan-akan masalah lingkungan tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia tentu harus diubah. Sebab lazimnya, publik akan tertarik terhadap isu-isu yang dampaknya langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kendala
Banyak kalangan berharap, dalam masalah lingkungan hidup pers dapat berperan, balk sebaga “anjing, penjaga” maupun “kelompok penekan” yang mengeritik pemerintah dan korporasi yang cenderung tidak menaruh kepedulian dan bahkan dengan sistematis melakukan perusakan lingkungan.

Jika selama ini ada mitos mapan bahwa kekuatan watchdog media hanya dapat dijalankan untuk menyoroti problem-problem politis, seperti isu korupsi maupun demokratisasi, selayaknya harus diubah secara radikal. Masalah lingkungan pun bermuatan politis. Kerusakan ekologis tidak lepas dari bagaimana kekuasaan dijalankan oleh elite politik dan elite ekonomi yang bergandengan tangan menumpuk gengsi sosial dan profit financial.

Apabila isu lingkungan mengandung muatan politis, sesungguhnya ada beberapa faktor penyebab sehingga media tidak dapat berperan sebagaimana mestinya, yakni Pertama, kepemilikan modal media terkonsentrasi pada segelintir pihak. Kedua, nilai-nilai tabloidisme telah menggerus standar dan keputusan pemberitaan. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan ruang pemberitaan dalam dewan redaksi menggerogoti perbincangan publik yang sehat.

Problem ekonomi politik media menjadikan wartawan tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan kasus-kasus kerusakan lingkungan, karena kemungkinan ada pemilik media yang memiliki perusahaan-perusahaan non-media yang mendapatkan proyek dari pemerintah.

Jalinan erat birokrasi dan korporasi ini menyulitkan para wartawan mengungkap skandal degradasi ekologis yang melibatkan aparat pemerintah dan pengusaha. Kebiasaan wartawan menonjolkan sensasionalisme dalam pemberitaan dan menjalankan liputan yang sekadar berpatokan pada peristiwa, semakin menjadikan jurnalisme lingkungan sulit direalisasikan. (KSP-04/Koran Surya Pagi)

Salah satu penyakit dari jurnalis adalah lemahnya akurasi. Yang dimaksud lemahnya akurasi ini adalah tidak tepatnya penggunaan data, fakta dan nama sehingga melahirkan kesalahan dalam pelaporan.

Oleh sebab itu akurasi merupakan satu hal penting dalam kerja seorang jurnalis. Dia melaporkan fakta tetapi fakta dasarnya salah maka salah pula laporannya. Kesalahan ini bisa diperbaiki namun akan memakan rasa malu dan masalah hukum.

Kalau angle pemberitaan mungkin bisa tidak memuaskan editor atau pembaca namun kesalahan fatal dari jurnalis adalah membuat kesalahan dalam pelaporan.

Perbaikan dan permintaan maaf mungkin bisa menyembuhkan tetapi kredibilitas menjadi taruhannya. Oleh sebab itulah maka akurasi harus dijaga sampai pada tingkat zero toleransi.

Jika hanya berakibat kesalahan editorial mungkin bisa dimaafkan, namun kelamahan dalam akurasi ini akan berakibat fatal jika melahirkan tuntutan hukum dari pihak yang dirugikan dalam pemberitaan. Sengaja atau tidak, masalah ini akan membawa dampak finansial bagi lembaga jurnalistik.

Oleh sebab itulah maka hindari kesalahan ini sebab jika tidak tuntutan bermilyar rupiah akan ditimpakan dimana seorang jurnalis berkarya. Jika sampai demikian masa depan akan suram untuk sementara dan kesalahannya akan diingat dalam sejarah lembaga itu. Kalau sudah sampai pada gugatan perdata, maka taruhannya bisnis media itu dalam ancaman. (journalist-adventure.com)

Berikut saran Mas Harry Surjadi (Direktur SIEJ) yang diposting di mailinglist wartawaningkungan tentang investigasi atau peliputan pengelolaan limbah atau sampah di klinik kesehatan. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan jurnalis yang berminat dalam peliputan di klinik kesehatan.(Marwan Azis)

Awalnya cukup “memotret” keadaan klinik itu. Coba observasi lingkungan di sekiling klinik. Pilih klinik yang paling ramai. Kemudian temui warga yang tinggal di sekitar klinik. Tanya, apakah pernah melihat klinik itu membuang sampah (atau limbah)? Pukul berapa biasanya mereka membuang sampah itu? Kalau beruntung Rio bisa dapat info cukup lengkap.

Langkah selanjutnya adalah observasi klinik pada saat mereka buang sampah. Periksa sampah yang dibuang itu untuk mendapatkan bukti apakah limbah medis (jarum suntik, bekas perban, kapas bekas, kemasan obat, dan sisa dari laboratorium) tercampur. Wawancara petugas yang menangani limbah, ke mana limbah itu dibuang?

Setelah observasi barulah wawancara direktur klinik diwawancara. Tanya bagaimana dia mengelola limbah kliniknya. Baru kemudian pemda ditanya. Bisa Dinas Kesehatan atau Bapedalda. Turun deh satu tulisan.

Selanjutnya tanya lagi Bepedalda, apa langkah mereka menertibkan pelanggaran yang bisa membahayakan masyarakat banyak ini. Kalau bertanya pada mereka harus detail dan konkret.Jangan mau kalau jawabannya: “Ya kami akan tertibkan.” Tanya lagi, “bagaimana caranya bapak menertibkan?” Minta apa saja yang akan dilakukannya? Bukan apa saja, tapi juda kapan dan deadlinenya. Sehingga kita bisa memantau terus. Selamat meliput ( Harry Surjadi)


Wawancara adalah satu hal penting bagi seorang jurnalis. Wawancara merupakan kegiatan utama jurnalistik. Tanpa wawancara tidak menarik isi berita. Wawancara baik yang sifatnya panjang, singkat atau dadakan merupakan pilar dari hampir semua laporan. Bahkan ketika menulis feature pun wawancara menjadi alat sangat penting.

Beberapa persiapan perlu dilakukan sebelum wawancara:

1. Baca dan lakukan riset sebelum wawancara. Baru-baru ini saya akan melakukan wawancara mengenai buku Menteri Kesehatan Siti Fadilah berjudul Saatnya Dunia Berubah. Buku ini menjadi kontroversi karena edisi bahasa Inggris memuat kalimat mengenai Amerika Serikat yang dianggap mungkin membuat senjata biologi dari virus flu burung yang disimpan WHO. Saya membaca berbagai ulasan, wawancara, artikel tentang buku itu sebelum wawancara. Maka pertanyaannya menjadi menajam, misalnya apa alasan penulisan buku dan mengapa heboh, serta benarkah ada tuduhan itu.

2. Susuan pertanyaan dari yang paling dasar sampai paling pokok. Artinya jika wawancara itu hanya akan digunakan sebagai bagian dari laporan, maka susun kalimat yang akan dijadikan bagian utama dari laporan.

3. Mempersiapkan pengembangan gagasan bila pertanyaan yang sudah disiapkan ternyata tidak tepat sesuai harapan. Artinya plan B tetap disiapkan agar wawancara tidak mati kutu atau berhenti gara-gara tidak sesuai dengan keinginan kita. Barangkali dalam acara spontan yang mengalir dari wawancara – khususnya untuk radio dan televisi – mungkin lebih atraktif daripada yang sudah disiapkan. Namun pegangan tetap harus ada sehingga tepat sasaran.

4. Siapkan peralatan dengan baik. Alat rekam, baterai, block note, alat tulis, apapun yang mendukung wawancara jangan ketinggalan. Alat rekam yang ketinggalan akan membuat wawancara sulit diuraikan nantinya karena akan mengandalkan catatan saja.

5. Jalin kontak dengan ajudan atau staf yang dekat dengan nara sumber, misalnya menteri apabila diperlukan. Atau jalin kontak dengan nara sumber langsung melalui alat komunikasi sehingga janji wawancara tidak terlupakan.

6. Jika wawancara dilakukan secara mendadak, persiapan tidak begitu banyak, buat keputusan satu dua ide langsung untuk dijadikan laporan utama. Pengalaman melakukan wawancara akan benyak membuat Anda terbiasa dengan ide-ide spontan. (Asep Setiawan/freejournalist)

Penulisan feature merupakan salah satu pilar dalam media massa. Feature yang pada umumnya merupakan sebuah liputan yang tidak terikat pada pakem straight news atau current event merupakan tahap berikutnya dalam penulisan jurnalistik.

Menulis feature memerlukan latihan yang cukup lama. Tidak seperti menulis atau memberikan laporan mengenai current event, peristiwa yang sedang berjalan, penulisan feature perlu sedikit kontemplasi, renungan dan mempertajam situasi dibalik berita.

Bagaimana menuangkan gagasan dari berita menjadi sebuah tulisan featuris ?

Inilah tantangan yang tidak mudah. Beberapa hal bisa dipikirkan di bawah ini:

1. Fokus terhadap peristiwanya. Kebakaran pasar adalah kerangka berita utama hari itu, namun perjalanan manusia didalamnya, perjuangan pedagang yang sudah puluhan tahun memutar modal kemudian hangus tanpa asuransi merupakan sebuah bahan feature menarik.

2. Fokus kepada manusia. Cerita manusia didalam sebuah peristiwa, atau cerita seseorang dibalik peristiwa merupakan sebuah kasus menarik untuk diangkat. Rasa simpati penulis terhadap nasib salah satu korban tabrakan di jalan tol, misalnya akan menggugah para pengambil kebijakan untuk memperketat laju kendaraan di tol. Cerita mengenai manusia dibalik berita akan memberikan bobot pada laporan utama.

3. Tuangkan dalam tulisan yang menyentuh. Tidak seperti pemberitaan yang lugas, kurang emosional, maka tulisan bentuk feature bisa dijadikan sebagai sebuah karya jurnalistik yang menyentuh kehidupan inti manusia, tentang hidup dan mati, tentang cinta dan pengkhianatan dan tentang patriotisme, misalnya. Disini memerlukan sedikit keterampilan dalam mengolah karya tulis ini. Bahasa dari dunia sastra akan bermanfaat untuk memperhalus alur cerita tanpa terjebak kedalam cerita fiksi.

4. Ending yang berkesan. Kekuatan feature adalah menarik pembaca kedalam tulisan sampai titik terakhir. Buatlah alur tulisan yang mengarah kepada klimaks yang membuat pembaca penasaran akan cerita didalam tulisan itu. Ending cerita mungkin bukan kemenangan atau keberhasilan subyek cerita tetapi mungkin tatapan masa depan yang suram.

Sumber: journalist-adventure

Halaman Berikutnya »