Diskusi Bersama Media
AKSES AIR BERSIH BAGI MASYARAKAT MISKIN
USAID/Environmental Services Program (ESP) bekerja sama dengan TEMPO Media Group mengundang Bapak untuk hadir dalam diskusi media yang diselenggarakan pada:
Tanggal: Rabu, 18 Juni 2008
Waktu: 09.00 – 13.00
Tempat: Hotel Menara Peninsula
Jl. S Parman, Slipi
Jakarta
Diskusi bersama wartawan ini untuk meningkatkan pemahaman insan media guna memperkuat pemahaman dan kesadaran yang lebih baik terkait persoalan akses air bagi masyarakat miskin dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan pembangunan manusia di Indonesia .
Besar harapan kami agar Bapak/Ibu dapat hadir untuk sumbang saran demi solusi yang dapat diambil maupun berbagai upaya yang dilakukan.
Pembicara telah menyatakan kesediaan hadir dalam diskusi media ini adalah:
1. Erna Witoelar, Mantan Duta Besar MDGs untuk PBB di Indonesia
2. Jim Woodcock, Water and sanitation concultant for the World Bank
3. Oswar Mungkasa, Kepala Sub-Direktorat Persampahan & Drainase, Direktorat Pemukiman & Perumahan – BAPPENAS
4. Sahril Pasaribu, Dirut PDAM Tirtanadi, Medan
5. Gusril Bahar, Micro-credit Specialist of ESP
4. Widi Prayitno, Masyarakat pengguna air dengan micro-credit PDAM-BRI; Panitia pengadaan untuk perumahan Jenggolo Asri, Sidoarjo, Jawa Timur
Dalam hal ini, Wahyu Muryadi, Redaktur Eksekutif – majalah TEMPO akan bertindak sebagai moderator.
Sebagai referensi, bersama ini kami lampirkan kerangka acuan kegiatan.
Atas perhatian dan dukungan Bapak kami haturkan terimakasih.
Kerangka Acuan
Diskusi Jurnalis
Akses Air Bersih Untuk Masyarakat Miskin
PENGANTAR
Pesan yang amat kuat dapat ditangkap dalam upaya pembangunan kualitas manusia yang lebih dikenal dengan MDGs (Millennium Development Goals) yakni pentingnya peningkatan kapabilitas seseorang atau sekelompok orang baik laki-laki maupun perempuan untuk pencapaian kehidupan yang lebih bermutu dan bermartabat. Peningkatan kualitas manusia tersebut dilakuan dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan dan air bersih dan sanitasi, yang harus ditempatkan dalam prioritas untuk kapabilitas masyarakat yang tidak mampu.
Pada konteks itu, persoalan ironis atas akses air bersih adalah ‘cost of water,’ketika kaum miskin justru harus membayar 5 kali lipat dibanding si kaya. Persoalan utamanya – terutama bagi mereka yg diperkotaan (urban) – adalah tidak tersedianya koneksi dan akses (baik ke PDAM ataupun alternatif sistem air perpipaan lainnya). Secara umum hal tersebut menyangkut kurangnya investasi, terbatasnya sumber air baku , buruknya management (perilaku korup) dan beberapa isu sosial-politis dan sosial lainnya. Pertanyaannya, apa yang dapat dilakukan meliahat begitu sempitnya diakses kaum miskin atas air bersih dan sehat. Tudingan dan kritik atas lemahnya jangkauan dan kualitas layanan PDAM ditambah kenyataan bahwa banyak kaum miskin tinggal di pemukiman illegal (yang sulit difasilitasi PDAM).
Lemahnya kebijakan dan perlindungan sosial, akhirnya kaum miskin terpaksa berhadapan dengan ‘vendors’ yang mensuplai secara mahal kebutuhan dasar tersebut. Biaya tinggi tersebut tidak sebanding dengan kualitas dan kuantitas air (serta sanitasi) minimum penerima jasa ‘mafia air’ tersebut. Sementara mereka tetap rentan dan jauh masih dari perilaku sehat dan bersih. Selain itu, upaya dan isu yg tidak kalah kontroversial adalah “Socialize tarrif“, termasuk peningkatan kapasitas berbagai PDAM. Tantangannya kemudian, seperti yg telah terungkap di Formative Research ESP (2006), konsumen lebih mempermasalahkan ‘kenapa harus bayar, bila service-nya buruk’ (mereka cenderung tidak mempersoalkan biaya yg harus dibayarkan, bila pelayanan yang diberikan memuaskan). Dengan kata lain, isu mendasar yang sering dijumpai: bagaimana korelasi ‘reasonable tariff’ versus ‘reasonable services’ yang layak.
Di Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, setiap 1,000 bayi lahir, 50 orang meninggal yang salah satu sebab utamanya adalah diare. Ini sering disebabkan oleh sumber air yang tercemar kotoran manusia. Pada konteks global, di dunia setiap tahun sekitar 1,6 juta anak mati karena diare, setara dengan satu anak setiap detiknya (UNICEF).
USAID / ESP berharap dapat memperluas kemitraan dan dukungan advokasi secara intens untuk akses air dan sanitasi yang lebih baik untuk mengurangi angka kejadian diare pada balita. Dalam dukungan ini USAID/ESP bersama TEMPO Media Group bermaksud mengajak media / jurnalis mendiskusikan isu kontroversial seputar isu air bagi masyarakat miskin. Dengan ini diharapkan penguatan pesan atas isu ini terus terjaga di tengah kompleksitas persoalan sosial ekonomi masyarakat saat ini, dengan mengetengahkan beberapa praktik-praktik terbaik sebaga upaya kontribusi solusi atas persoalan ini.
OUTCOMES
§ Meningkatnya akses informasi kalangan media dan jurnalis ke berbagai nara sumber akan pentingnya yang terkait seputar isu akses air bersih bagi masyarakat miskin.
§ Menguatnya komitmen kalangan media dalam penyampaian pesan yang lebih akurat, efektif, dan berkualitas.
§ Munculnya dukungan nyata dari target (pembaca/pemirsa) media, terutama para pengambil kebijakan di Indonesia terhadap seriusnya persoalan sanitasi dami upaya solusi yang lebih optimal.
§ Terjangkaunya sasaran komunikasi publik (above the line) dalam rangka advocacy isu yang sejalan dengan tim below the line (komunikasi interpersonal di level komunitas), khususnya pada isu yang terkait dengan sektor sanitasi.
DISKUSI MEDIA
Para panelis diskusi memberikan pandangan yang luas dan keahlian mendalam untuk merangsang diskusi . Pembahasan memiliki ruang lingkup khusus sekitar isu sanitasi pada konteks global dan lokal, sehingga mampu berkontribusi kepada kekuatan pesan yang dihimpun oleh kalangan media dan para wartawan bagi publik, terutama para pengambil kebijakan. Sehingga penguatan pesan atas isu yang tidak populer seperti sanitasi dapat menemukan alternatif sosialisasi yang lebih komunikatif dan efektif, demi percepatan pembangunan manusia melalui peningkatan pada akses sanitasi yang lebih luas dan setara dengan air bersih bagi masyarakat. Mereka adalah:
1. Erna Witoelar, Mantan Duta Besar MDGs untuk PBB di Indonesia
Indonesia dan persoalan akses air bersih bagi kaum miskin. Seperti berbagai program pembangunan manusia lainnya, sungguh tidak mudah membangun komitmen dan kesadaran bersama, terlebih bila pembahasan komitmen itu terkait dengan isu yang membutuhkan kampanye dan komunikasi intensif. Isu air bersih bagi masyarakat miskin adalah salah satu dari sekian yang membutuhkan dorongan dan komitmen bersama. Sesi ini akan digunakan menjelaskan menyajikan konteks global sekaligus posisi Indonesia dalam upaya pembangunan manusia, khususnya dalam mencapai Tujuan Keempat MDGs.
2. Jim Woodcock, Water and sanitation concultant for the World Bank
1001 permasalahan air bersih Indonesia. Di Indonesia hampir 100,000 bayi tewas setiap tahunnya disebabkan oleh diare, penyakit yang mematikan nomor dua setelah infeksi saluran napas akut. Penyebab utama dari tingginya angka itu adalah disebabkan oleh buruknya akses air bersih (serta sanitasi). Sesi ini memberikan penjelasan hal teknis air perpipaan dalam upaya mencari solusi untuk persoalan ini. Selain itu dapat pula dihantarkan alternatif upaya-upaya teknis yang dapat dilakukan para pemangku kepentingan (stakeholders), atas isu yang kontroversial ini.
3. Oswar Mungkasa, Kepala Sub-Direktorat Persampahan & Drainase, Direktorat Pemukiman & Perumahan – BAPPENAS
Jalan panjang menuju kebijakan dan dukungan teknis yang efektif .. Berbagai fungsi dan aspek teknis dari berbagai lembaga dan badan teknis memerlukan acuan yang lebih efektif-aplikatif. Pemerintah tentu memiliki agenda taktis yang harus disosialisasikan. Selain memberikan kerangka konseptual tentu dapat pula dipaparkan kondisi teknis dalam persoalan sanitasi Indonesia . Ssesi ini diharpakan dapat memberikan realitas yang terjadi secara nasional ataupun terobosan daerah dalam rencana / koordinasi pembangunan untuk membantu upaya pemecahan masalah.
4. Sahril Pasaribu, Dirut PDAM Tirtanadi, Medan
‘Master meter’ sebagai salah satu solusi: kasus Medan . Ranah politik sepertinya punya logika sendiri yang kadang jauh dari kepentingan mendasar masyarakat umum. Di era yang lebih kondusif dengan otonomi daerah, sebetulnya banyak upaya kreatif yang dapat dilakukan pemerinta lokal dalam melayani masyarakatnya. Sesi ini akan mengurai terobosan Salah satu Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ikut dalam meletakkan perencanaan yang lebih holistik dan terarah bersama pemerintah daerah, masyarakat dan stakeholders lainnya.
5. Gusril Bahar, Micro-credit Specialist of ESP
Skema ‘kredit-mikro’ PDAM-BRI: alternatif solusi. Selain sinergi swasta-pemerintah, sebetulnya kolaborasi swasta-swasta dapat pula berkontribusi lebih berarti bagi masyarakat. Bagian ini akan memaparkan suatu terobosan swasta-swasta dalam upaya bersama peningkatan kualitas manusia melalui peningkatan pelayanan dan akses air bersih bagi masyarakat kurang mampu.
4. Widi Prayitno, Masyarakat pengguna air dengan micro-credit PDAM-BRI, salah satu pengurus panitia pengadaan untuk perumahan Jenggolo Asri, Sidoarjo, Jawa Timur
Sesi ini akan mengurai lebih jauh pengalaman langsung dari lapangan dan lessons learned dari masyarakat di daerah yang kritis, dalam memanfaatan skema kredit mikro.
Moderator : Wahyu Muryadi, Redaktur Eksekutif – majalah TEMPO
Tidak seperti perang, panggung politik, isu sosial dan konflik besar lainnya; persolaan mendasar masyarakat miskin dalam akses mereka atas air bersih kadang tidak menjadi berita pokok di media. Seperti kelaparan dan pemiskinan, kelangkaan akses air (serta sanitasi) yang baik adalah sebuah krisis pengalaman diam oleh orang miskin dan kepasrahan dengan sumber daya, teknologi dan kekuatan politik untuk mengakhirinya. Sorotan media secara terus menerus akan bertindak sebagai sebuah katalisator untuk melakukan tindakan. Terutama dorongan advokasi untuk prioritas kebijakan dan alokasi anggaran yang lebih efektif dan tepat guna.
Run Down – Diskusi Media:
Salam hormat,
Alwis Rustam
National Coordinator for Public Outreach & Communications
USAID’s Environmental Services Programs
Tel.: 62 21- 720 9594, Fax.: 62 21- 720 4546
email : alwis_rustam@dai.com
web: www.esp.or.id
_____________________



Februari 28, 2008 at 5:07 am
Training Jurnalisme Investigatif Lingkungan
Jakarta, 21-25 April 2008
* trainer internasional : Dale Willman (radio), Jim Simon (cetak), Inge Altemeier (tv)
* ide investigasi terbaik memenangkan dana bantuan liputan
* insentif bagi yang berhasil menyelesaikan liputan investigatif pasca pelatihan dalam periode waktu tertentu
* deadline aplikasi : 7 Maret 2008
Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) kembali menyelenggarakan Training Jurnalisme Investigatif kali ini khusus bertema lingkungan hidup.
Para trainer internasional berpengalaman di bidang investigasi lingkungan hidup akan langsung membimbing peserta dalam training di Jakarta tanggal 21 – 25 April 2008. Mereka adalah Dale A Willman (radio), Jim Simon (cetak), Inge Altemeier (tv). Melalui diskusi, simulai dan praktek trainer akan membantu setiap peserta dalam menajamkan ide liputan investigatif bidang lingkungan hidup yang diajukan peserta.
Tujuan akhir dari pelatihan adalah membuat peserta memiliki rencana dan persiapan matang untuk melakukan liputan investigatifnya sekembali ke media masing-masing.
PPMN akan memberikan insentif khusus bagi jurnalis yang berhasil menyelesaikan liputan investigatif setelah pelatihan dalam periode waktu tertentu.
Peserta adalah jurnalis Indonesia yang bekerja full time/free lance dari media cetak/online, tv dan radio berpengalaman minimal 3 tahun.
Kirimkan lamaran dengan syarat-syarat sebagai berikut ;
- cv / biodata
- surat referensi (min. 2 buah)
- copy contoh-contoh karya jurnalistik
- ide rencana peliputan investigatif yang akan dikerjakan setelah training
Biaya training *) : Rp 500.000
Kirimkan syarat-syarat pendaftaran ke Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara, Jl. Utan Kayu 68H Jakarta Timur 13120 atau e-mail : info.ppmn@yahoo. com paling lambat tanggal 7 Maret 2008
Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (Indonesian Association for Media Development) adalah lembaga yang menjalankan program-program nonprofit untuk pengembangan profesionalisme media dan perluasan akses informasi di Indonesia dan kawasan Asia. Informasi : Vera/Cecil : 021-68594538, 021-98279935.
Panitia menanggung biaya akomodasi dan transportasi peserta.
*) Tersedia 4 bea siswa untuk peserta yang keberatan terhadap biaya training.
Lampirkan surat permohonan bea siswa bersama lamaran yang dikirim.
Sekilas tentang para trainer :
Dale Willman
Dale Willman berpengalaman 30 tahun sebagai jurnalis. Sepuluh tahun di antaranya ia bekerja pada National Public Radio Washington D.C. dan memperoleh Peabody Award. Saat bekerja di CNN Radio liputan investigatifnya “Broadway’s Dirty Little Secret” menyabet penghargaan Edward R Murrow. Laporan yang dimuat berseri ini bercerita tentang masalah lingkungan yang ditimbulkan dari pertunjukan Broadway Walt Disney, Beauty and the Beast. Dale juga tercatat sebagai satu-satunya wartawan lingkungan di sepanjang sejarah CNN Radio.
Dale banyak memberi kuliah tentang jurnalisme lingkungan. Pernah memberikan pelatihan jurnalisme lingkungan di Belize, Thailand dan Bolivia. Ia juga mendirikan dan mengelola situs jurnalisme lingkungan http://www.fieldnotes. tv untuk mendukung para jurnalis meliput isu-isu lingkungan. Dale menjadi pengurus sejumlah organisasi jurnalis lingkungan dan anggota Society of Environmental Journalist.
Jim Simon
Jim Simon bekerja lebih dari 20 tahun sebagai jurnalis di Seattle Times, salah satu koran daerah terbesar di Amerika. Jabatannya kini adalah wakil pemimpin redaksi membawahi 55 reporter dan 12 editor. Selama karirnya sebagai reporter lingkungan ia menulis berbagai kasus mulai dari pembalakan liar sampai satwa langka yang terancam hingga soal dampak lingkungan perburuan paus secara tradisional.
Beberapa kali Jim menjadi trainer pada pelatihan jurnalisme lingkungan dan soal etik di berbagai kota di Indonesia. Pernah memberi kuliah di Universitas Padjajaran soal in-depth report bertema lingkungan dan kesehatan. Juga memberi kuliah jurnalistik di sejumlah universitas Amerika.
Karya jurnalistik Jim Simon dua kali masuk nominasi Pulitzer Prize tahun 1990 dan 1998. Prestasinya yang lain adalah menjadi co winner National Press Club dan Scripps Howard National Journalism awards untuk liputan bidang lingkungan tahun 1999 dan memenangkan John B Oakes award setahun sebelumnya juga untuk liputan bertema lingkungan.
Inge Altemeier
Inge Altemeier tinggal di Jerman. Dia dikenal sebagai produser yang berpengalaman lebih dari 20 tahun, juga sebagai jurnalis investigatif radio dan televisi. Banyak karya-karyanya soal lingkungan di Indonesia. Antara lain Lost in Palm Oil (2007), Green Energy Boom – Biofuel from Indonesia (2007) dan Tsunami Donations Used for Illegal Logging (2005) serta Pulping the People – Paper Production in Indonesia (2001).
Karya-karya Inge banyak menerima penghargaan. Antara lain tahun 2004 ia meraih penghargaan Silver Carpet pada International Environmental Film Festival di Kairouan, Tunis. Di tahun yang sama di Brasil ia juga memenangkan FICA award pada 6th International Environmental Film Festival. “Greasy Loot Palm Oil from Indonesia ”, film karyanya juga menyabet penghargaan pada International Environmental Film Festival 2002 untuk kategori best journalistic work. Tahun 2000 Inge menjadi trainer jurnalisme investigatif di Jakarta dan ia bisa berbahasa Indonesia.
Maret 11, 2008 at 1:49 pm
MEMPERINGATI HARI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA
Dialog Publik dan Pemutaran Film
Diselenggarakan bersama oleh
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)
dan
Ford Foundation (FF)
Jakarta, 10 Maret 2008
Kepada Rekan-Rekan yang Terhormat,
Tanggal 17 Maret merupakan hari yang sangat penting bagi Masyarakat Adat di seluruh Nusantara Indonesia. Pada tanggal inilah, 9 tahun yang lalu, 17 Maret 1999, sejumlah Masyarakat Adat dari berbagai wilayah di Indonesia berkumpul di Jakarta dan mendeklarasikan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat di negara ini.
Untuk memperingati hari yang bersejarah ini, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan The Ford Foundation (FF) dengan hormat, mengundang anda untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam Dialog Publik dan Pemutaran Film tentang Situasi Masyarakat Adat di Indonesia. Acara ini akan dilaksanakan pada :
Tempat : S. Widjojo Auditorium (di samping kantor Ford Foundation) S. Widjojo Centre, lt 11
Jl. Jend. Sudirman Kav. 71 Jakarta Selatan
Hari/Tanggal : Senin, 17 Maret 2008
Waktu : 08.00 – 13.00 WIB
Presentasi khusus akan disampaikan terkait dengan Hutan Adat dan perannya dalam Keamanan Pangan (food security), Mitigasi Perubahan Iklim dan Identitas Budaya serta Pengurangan Konflik di Indonesia.
Demikian undangan dari kami. Atas kehadiran dan partisipasi anda dalam acara ini, kami mengucapkan terimakasih. Untuk konfirmasi, silakan menghubungi Sdri. Rainny Natalia, HP : 0812 1100303
Salam Hormat,
Abdon Nababan
Secretary General of AMAN
A l i a n s i M a s y a r a k a t A d a t N u s a n t a r a
“Berdaulat secara Politik, Mandiri Secara Ekonomi, dan Bermartabat secara Budaya”
April 21, 2008 at 7:30 am
Konsep Foto
*
Ide Foto
Menyampaikan pesan positif tentang lingkungan yang bersifat menggugah khalayak, berupa visualisasi sikap ramah lingkungan. Bisa berupa kampanye, pendidikan lingkungan, dan aktivitas ramah lingkungan.
Target Audience
Karya kami bertujuan mengkomunikasikan pesan lingkungan terhadap khalayak dengan batasan
Demografi:
*
Jenis kelamin : Pria-Wanita
*
Umur : 18-25, 25-45
*
SES : A, B, C1
*
Pendidikan : SMA – perguruan tinggi
Psikografi: Memiliki ketertarikan terhadap bentuk visual dan berpikiran terbuka, serta cenderung menganalisa bentuk visual.
Daftar Konsep Foto
1.
Pikirkan Bumi Sebelum Menghadapi Pemanasan Global
Deskripsi Pesan:
Kepala sebagai tempat otak untuk berpikir, digambar peta dunia (globe) mewakili bumi, bernuansa hitam putih menggambarkan masa lalu. Wajah yang digambar globe berwarna merah, diartikan sebagai kondisi manusia yang terancam menghadapi pemanasan global. Mengajak audiens berpikir tentang bumi yang kita tinggali sebelum menghadapi pemanasan global.s
Konsep Umum:
Gambar bagian belakang dari kepala manusia yang dilukis peta dunia(Globe), dan wajah manusia di lukis peta dunia bernuansa merah, dalam satu frame foto. Pada bagian kepala, pewarnaan foto dibuat hitam putih.
Lokasi : Indoor
Properti:
*
Background Biru dengan latar belakang awan.
*
Lighting 3 buah; 500WS 1buah, 300WS 2bh.
Make Up:
Cat; Cat tembok, warna Merah 1 Liter, Hijau 1 Liter, Biru 1 Liter, Hitam 1 Liter, Putih 1 Liter. Kuas 5 buah. Spidol hitam 5 Buah.
Pemeran:
Gambar kepala: Pria/wanita berkepala plontos
Gambar Muka: Wanita berwajah menarik.
Ekspresi, Gerak dan Pose:
Muka: menatap kosong dan tajam, dalam tekanan. Pose tegap.
Kepala: Pose Tegap.
2.
Sampah, Pertimbangkanlah Sebelum Membesar
Deskripsi Pesan:
Gambaran dari sampah yang akan membesar di kemudian hari. Merangsang audiens memaknai pesan visual, dan diharapkan audiens dapat menyikapi sampah dan permasalahannya.
Konsep Umum:
Gambar Kereta bayi yang diisi sampah, didorong oleh seorang ibu (cropping di leher)
Lokasi : Outdoor, trotoar / pinggir jalan.
Properti:
*
Kereta Bayi
*
1 Kantong ukuran besar berisi sampah kemasan makanan / minuman, merk’nya disamarkan.
*
2 Buah Flash Eksternal untuk mengisi bayangan (tentative)
Wardrobe:
Long Dress / Daster, Warna merah
Pemeran:
Wanita pendorong kereta bayi, tidak ada kriteria khusus.
Ekspresi, Gerak dan Pose:
Muka: menatap kosong dan tajam, dalam tekanan. Pose tegap.
Kepala: Pose Tegap.
3.
Lihat dan pikirkan Bumi
Deskripsi Pesan:
Lirikan mata ke arah jidat(kepala bagian depan) yang digambar globe, diartikan sebagai contoh bagi audiens untuk ikut serta melihat dan memikirkan kondisi “Bumi Kita”.
Konsep Umum:
Gambar muka manusia berkepala botak(plontos) yang kepalanya dilukis peta dunia(Globe), mata pemeran melirik ke bagian atas ke arah lukisan globe.
Lokasi : Indoor
Properti:
*
Background hitam.
*
Lighting 3 buah; 500WS 1buah, 300WS 2bh.
Make Up:
Cat; Cat tembok, warna Merah 1 Liter, Hijau 1 Liter, Biru 1 Liter, Hitam 1 Liter, Putih 1 Liter. Kuas 5 buah. Spidol hitam 5 Buah.
Pemeran:
Gambar kepala: Pria/wanita berkepala plontos, berwajah menarik.
Ekspresi, Gerak dan Pose:
Muka: melirik, mencari tahu apa yang ada di atas kepala.
Kepala: Pose menengadah.
4.
Perspektif Hijau
Deskripsi Pesan:
Lirikan mata secara simbolik diartikan sudut pandang manusia, dengan lensa kontak berwarna hijau diartikan sebagai cara pandang ramah lingkungan.
Konsep Umum:
Gambar lirikan mata manusia yang menggunakan contact lens berwarna hijau (cropping di bagian mata). Diberi film strip pada bagian atas dan bawah mata(tentative, bisa menggunakan olah digital).
Lokasi : Indoor
Properti:
*
Background biru
*
Lighting 3 buah; 500WS 1buah, 300WS 2bh.
Wardrobe dan Make Up:
Lensa kontak warna hijau. Make up(hanya pada bagian mata dan sekitarnya) sedikit glamour, eye shadow, Bulu mata palsu(tentative) untuk menutupi kekurangan talent di bagian mata. Film Strip(tentative).
Pemeran:
Wanita bermata indah
Ekspresi, Gerak dan Pose:
Melirik Nakal ke arah kanan subjek.
5.
Penyelamat Lingkungan, versi Tanam Pohon
Deskripsi Pesan :
Bidadari dengan segala kesempurnaannya, menanam pohon sebagai contoh bagi khalayak.
Konsep Umum:
Gambar seorang bidadari lengkap dengan perniknya, sedang menanam pohon.
Lokasi : Outdoor, Padang pasir
Properti:
*
Bibit pohon keras.
*
Flash eksternal untuk mengisi bayangan (tentative)
Wardrobe dan Make Up:
Make up normal-minimalis, eye shadow, untuk menutupi kekurangan talent.
Pemeran:
Wanita, cantik, menarik, bertubuh proporsional.
Ekspresi, Gerak dan Pose:
Menatap bibit pohon penuh harapan, menanam sepenuh hati.
(http://centricfoto.multiply.com/journal/item/1/environment_campaign_photo_concept)
November 21, 2008 at 4:40 am
perlu penanaman seribu pohon di kompleks perumahan universitas andalas, gadut, Padang SUMBAR