<!– –>Bagi kalangan jurnalist, deadline adalah harga mati. Dia adalah musuh abadi. Deadline dianggap sebagai musuh yang terus menghantui kalangan wartawan apakah dia reporter atau editor. Semuanya secara aksioma tunduk pada apa yang disebut deadline.

Beberapa pengalaman meliput di luar negeri atau di luar kota Jakarta menuntut ketelitian terhadap waktu. Perbedaan waktu dengan negara-negara di Eropa bisa lebih dari enam jam. Dengan kata lain, saat bangun tidur di Inggris misalnya, jam di Indonesia sudah menunjukan siang hari. Saat rapat editor sore hari, di London baru siang hari. Siang hari adalah sibuk-sibuknya peliputan di lapangan.

Mereka yang bertugas dengan jarak waktu lebih dari enam jam perlu memperhatikan waktu dengan seksama. Perlu perencanaan yang matang mengenai liputan di lapangan dan bagaimana cara pengiriman laporan. Di era internet ini mungkin cara pengiriman sudah bisa teratasi kecuali kalau harus meliput ke pedalaman atau lingkungan yang tidak ada koneksi internet.

Demikian pula di wilayah yang perbedaan waktu lebih dari enam jam seperti di Amerika Serikat,maka perlu sekali perencaaan berkaitan dengan waktu. Sejumlah hal yang bisa dicatat disini dalam menyiasati deadline ketika kita berhadapan dengan jadwal konferensi atau wawancara yang ketat.

1. Perhatian perbedaan waktu dengan negara atau lokasi dimana kita berada. Jika kita biasa menyusun tulisan dalam waktu satu atau dua jam maka sisihkan waktu itu untuk menulis laporan. Jika di lapangan perlu waktu setidaknya 4 jam maka, perhatian waktunya. Dengan meliki petunjuk waktu yang ganda satu Indonesia dan satu negara dimana kita liputan maka akan memudahkan memikirkan kerangka waktu ini. Di Malaysi barangkali hanya satu jam lebih cepat tetapi di daerah Timur Tengah mungkin empat jam dibelakang.

2. Kenali alat transportasi dan lalu lintas. Seringkali karena liputan di daerah asing maka masalah transportasi tidak begitu mengenalnya. Dengan mengetahui jalur kereta api, mobil umum atau taksi maka akan memudahkan untuk kembali ke tempat pembuatan laporan misalnya disebuah hotel. Perhitungkan jarak dari nara sumber berita dengan tempat kita menyusun laporan.

3. Siapkan bahan-bahan liputan dengan matang. Apakah itu berupa daftar pertanyaan, daftar tempat yang akan dikunjungi, daftar foto yang harus diambil atau orang yang ditemui, maka semuanya perlu diurutkan dan ditempatkan dengan tertib. Jangan sampai misalnya alat perekam baterainya habis atau kamera belum diisi baterainya. Kadang-kadang mencari satu benda menghabiskan waktu beberapa puluh menit sehingga masa peliputan semakin pendek.

4. Jika memungkinkan topik dan angle liputan sudah dirancang lebih awal apakah bersama editor di kantor atau ketika pagi hari sebelum berangat liputan. Deadline bisa ditangani lebih baik jika bahan-bahan tulisan sudah tersedia rapi di dalam laptop, misalnya.

5. Cek alat komunikasi sebelum melakukan pengiriman yang riil. Tes terlebih dahulu apakah itu koneksi internet atau mungkin dari kafe internet. Cek ulang dan yakin pengiriman tulisan, foto, audio atau video sudah tertata rapi. Tidak jarang pengiriman gagal memenuhi deadline karena masalah teknis.

6. Selalu sadar akan deadline. Sejak terjun ke lapangan untuk liputan apakah wawancara atau peristiwa tertentu, sadar selalu akan keterbatasan waktu. Jangan paksakan untuk menerobos deadline dengan harapan editor di Jakarta akan memahami dan bisa dimintai waktu lebih. Jika berita itu tidak luar biasanya, praktisnya tim terakhir di malam hari akan mengejar berita dan laporan yang lebih awal datangnya.

7. Cek kembali laporan atau tulisan yang akan dikirim dan telah dikirim. Baca ulang nama-nama tempat dan peristiwa terutama akurasinya jangan sampai menimbulkan tanda tanya di Jakarta.

8. Telepon atau kontak jika telah mengirimkan laporan. Jangan percaya yang berlebihan bahwa setelah email dikirim atau materi dikirim semuanya lancar. Selalu mengantisipasi adanya hambatan dalam jalur komunikasi. Jangan biarkan kantor pusat menunggu informasi Anda tetapi aktiflah Anda menghubungi editor atau koordinator liputan. (Asep Setiawan)

About Greenpress

Green Press adalah organisasi profesi wartawan lingkungan yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s