PERKEMBANGAN
sastra di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari adanya peran
media. Media dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa
dipisahkan. Sejarah media (tertulis/tercetak) dimulai ketika Gutenberg
berhasil menciptakan mesin cetak. Sejak itulah mulai bermunculan
pengarang-pengarang dengan karya-karya mereka. Berbagai media yang
bermunculan turut membidani lahirnya pengarang-pengarang hebat dan
memprakarsai terbentuknya sejarah literasi, termasuk di Indonesia.

Contoh media yang turut membidani penulis/pengarang, karya sastra,
dan budaya literasi di Indonesia adalah penerbit Balai Pustaka (berdiri
pada 1917-sekarang) . Balai Pustaka ini melahirkan para
sastrawan/pengarang nasional seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Sutan
Takdir Alisjahbana, dan sebagainya. Bahkan, pengarang-pengarang ini
kemudian menamakan diri sebagai angkatan Balai Pustaka. Saking
berpengaruhnya keberadaan Balai Pustaka (sebagai media) terhadap
pengarang-pengarang dan karya-karyanya.

Tulisan ini secara khusus menyoroti sepak terjang Forum Lingkar
Pena (FLP) yang digawangi oleh tiga wanita “perkasa” , Helvy Tiana Rosa
(UI), Asma Nadia (IPB), dan Muthmainnah (Unpad). FLP mulai lahir dari
rahim kejengahan karya sastra yang merebak. Jengah, karena ketiga
pupuhu FLP ini merasakan betul dan merindukan karya sastra yang
mencerahkan.

Maka, dengan bismillah, pada 22 Februari 1997, lahirlah komunitas
ini dengan anggota awal 30 orang. Sekarang, tercatat lebih dari 100
kota di Indonesia dan beberapa negara memiliki wilayah/cabang/ ranting
FLP dengan total anggota sekitar 5000 orang, 500 orang di antaranya
menjadi penulis dan telah menerbitkan lebih dari 500 judul karya.

Kehadiran FLP membawa angin segar bagi perkembangan sastra
Indonesia. Mereka (FLP) membawa genre baru dalam ranah sastra negeri
ini, yang kemudian dilabeli sastra islami.

Lalu, apa hubungan
FLP dengan media dan karya sastra? FLP ibarat tempat pertemuan arus
panas dan dingin yang menyebabkan plankton banyak berkumpul sehingga
mengundang berbagai jenis ikan berkumpul di sana. FLP yang saat itu
“berkoalisi” dengan majalah Annida, mengundang calon-calon atau
nelayan-nelayan profesional untuk mencari ikan di tempat pertemuan arus
panas dan dingin itu. Banyak generasi muda (didominasi aktivis dakwah
kampus), berbondong-bondong masuk ke dalam komunitas FLP.

“Koalisi” antara Annida dan FLP ini ibarat simbiosis mutualisme,
saling menguntungkan. FLP menjadi dikenal masyarakat luas karena media,
dan Annida juga menjelma menjadi majalah remaja yang dikenal luas oleh
masyarakat. FLP dan Annida ini kemudian turut membidani lahirnya
penulis-penulis muda berbakat semacam Jazimah Al Muhyi, Syamsa Hawa,
Koko Nata Kusuma, Irfan Hidayatullah, Habiburahman El Shirazy, serta
tak ketinggalan ketiga pupuhu FLP, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan
Mathmainnah.

Geliat sastra atau fiksi islami ini kemudian terendus oleh
penerbit-penerbit kecil yang juga memiliki afiliasi yang sama dengan
FLP. Seperti penerbit Zikrul Hakim. Penerbit yang semula menerbitkan
kitab-kitab Yaasin dan Juz ¢Ama ini mengaku beruntung dengan
booming-nya fiksi islami pada tahun 2000. Sekarang, Zikrul Hakim telah
menjelma menjadi salah satu penerbit yang disegani di ranah penerbitan
Indonesia. Kemudian diikuti oleh Gema Insani Press (GIP), INDIVA Media
Kreasi, Syamiil Bandung, dan sebagainya. Bahkan, penerbit-penerbit
besar juga tak ketinggalan meramaikan momen ini, seperti penerbit
Gramedia, Mizan, dan sebagainya.

Begitulah, Annida membesarkan FLP, FLP membesarkan Annida, kemudian
lahirlah penerbit-penerbit- -awalnya penerbit kecil–besar sebagai efek
dari “koalisi” antara FLP sebagai representasi dari sastra (fiksi) dan
Annida sebagai representasi media. Seperti inilah seharusnya atmosfer
literasi kita terbangun. Dengan demikian, bukan hal yang tidak mungkin
kalau bangsa kita akan mengalami kemajuan yang signifikan.

Maka, tidaklah berlebihan jika sastrawan sekelas Taufik Ismail
mengatakan, “FLP adalah anugrah Tuhan untuk Indonesia!” Semoga
demikian. (Fatih Beeman, mahasiswa Jurusan Mankom Fikom Unpad, penulis
buku “Beginilah Seharusnya Hidup”, dan bergiat di FLP Jatinangor) **

Sumber:
http://newspaper. pikiran-rakyat. co.id

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

About Greenpress

Green Press adalah organisasi profesi wartawan lingkungan yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s