Oleh M Badri

Jurnalisme lingkungan dapat didefinisikan sebagai proses kerja jurnalisme melalui pengumpulan, verifikasi, distribusi dan penyampaian informasi terbaru berkaitan dengan berbagai peristiwa, kecenderungan, dan permasalahan masyarakat, yang berhubungan dengan dunia non-manusia di mana manusia berinteraksi didalamnya.

Dalam interaksi antarkomponen lingkungan, wartawan diharapkan harus “memihak” kepada proses-proses yang meminimalkan dampak negatif kerusakan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, wartawan lingkungan perlu menumbuhkan sikap:

  • Pro Keberlanjutan: Lingkungan Hidup yang mampu mendukung kehidupan berkelanjutan, kondisi lingkungan hidup yang dapat dinikmati oleh generasi sekarang tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang
  • Biosentris: Kesetaraan spesies, mengakui bahwa setiap spesies memiliki hak terhadap ruang hidup, sehingga perubahan lingkungan hidup (pembangunan) harus memperhatikan dan mempertimbangkan keunikan setiap spesies dan sistem-sistem di dalamnya.
  • Pro Keadilan Lingkungan: Berpihak pada kaum yang lemah, agar mendapatkan akses setara terhadap lingkungan yang bersih, sehat dan dapat terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan.
  • Profesional: Memahami materi dan isu-isu lingkungan hidup, menjalankan kaidah-kaidah jurnalistik, menghormati etika profesi, dan menaati hukum.
  • Topik-topik yang diangkat jurnalisme lingkungan, misalnya pencemaran udara atau pengaturan sampah, dengna pengkhususan masalah-masalah yang terjadi di ranah lokal. Selain itu, jurnalisme lingkungan juga mencakup topic-topik seperti: Isu lingkungan antarnegara, perubahan iklim dan pemanasan global, illegal logging, kualitas air, kebakaran hutan, pencemaran industri, nuklir, kekeringan, banjir, longsor, kabut asap, limbah rumahtangga, limbah rumahsakit, limbah industri, kepunahan fauna, modifikasi generika, dan sebagainya.

Lukmantoro dalam tulisan “Kematian Jurnalisme Lingkungan?” (Suara Pembaruan, 3 Juli 2007 dan dikutip Greenpress, 13 April 2008) mempertanyakan, apa yang dapat dijalankan institusi media massa untuk memberikan respon terhadap bumi manusia yang semakin mengalami kerusakan? Seharusnya kalangan pekerja media (jurnalis) lebih intensif untuk menyoroti akar persoalan degradasi ekologis. Gejala yang tampak selama ini menunjukkan bahwa lembaga media kurang memberikan kepedulian pada masalah-masalah lingkungan. Bahkan, jurnalisme lingkungan terasa asing bagi lembaga media.

Fenomena ini dapat disimak pada pemberitaan-pemberitaan yang disajikan media terhadap masalah lingkungan. Ekspose yang lazim disajikan pihak media hanya mengungkapkan akibat-akibat kerusakan lingkungan, seperti rob (limpasan air laut ke wilayah daratan), banjir bandang, gelombang pasang, tanah longsor, angin puting beliung, atau suhu udara yang memanas. Pihak media jarang menyoroti sebab-sebab terjadinya bencana alam. Problem fundamental yang menyebabkan degradasi ekologis sangat langka dijadikan prioritas agenda pemberitaan. Boleh dikatakan bahwa pihak media lebih dominan menunjukkan sikap reaktif yang bersifat sesaat, dan bukan karakter antisipatif, terhadap persoalan lingkungan.

Ketika tidak ada bencana alam menerjang yang mengakibatkan korban-korban manusia berjatuhan dan harta benda mengalami kehancuran, media lebih banyak memilih sikap diam dan kurang tanggap. Simaklah bagaimana isu pemanasan global ditanggapi secara kurang berarti. Padahal, kehancuran ekologis pada level global memiliki dampak serius pada kerusakan lingkungan secara keseluruhan. Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektif jurnalisme lingkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan.

Greenpress (13 April 2008) mengutip Kompas mengungkapkan, media lebih banyak memberi tempat terhadap berita-berita ekonomi dan politik dibanding berita lingkungan. Kalaupun ada berita isu lingkungan dalam sebuah media, hanya menempati ruang kecil saja. Padahal media sangat berpengaruh untuk menyadarkan publik agar mereka segera peduli terhadap lingkungannya, untuk bersama-sama menyelamatkan bumi, dan mencegah “kiamat” yang dipercepat oleh kerusakan-kerusakan lingkungan.

Media, juga di Indonesia, lebih merasa gemerlap dengan mengangkat isu-isu politik dan ekonomi. Halaman-halaman media maupun jam tayang televisi ataupun jam siar radio melulu banyak diisi kedua persoalan itu. Kesadaran untuk memberi tempat terhadap lingkungan sebenarnya mengemuka dari para jurnalis.

Persoalan-persoalan internal media adalah sedikitnya pengelola media memberi halaman atau ruang yang memadai untuk isu lingkungan. Selain itu, kepemilikan sejumlah politisi atau pengusaha dalam usaha media juga sering kali mempersulit jurnalis atau media yang bersangkutan memuat isu-isu lingkungan yang menyangkut kepentingan pemilik. Seorang wartawan dari Brasil mencontohkan, persoalan itu terjadi ketika sebuah isu lingkungan terjadi di sebuah provinsi negerinya.

Namun media setempat tidak bisa melakukan apa-apa atau memberitakannya karena pemilik koran itu, yang kebetulan seorang gubernur, tidak mau persoalan itu dipublikasikan di medianya. Sebenarnya kejadian serupa pernah terjadi di Indonesia, ketika sebuah kasus reklamasi pantai mengusik perhatian masyarakat, namun sebuah media tidak berkutik karena pemilik saham media mereka, tidak lain dari pemilik pengembang yang melakukan proyek reklamasi yang belakangan terbukti menyebabkan banjir semakin parah itu.

Tantangan Pers

Mengutip Surya Pagi, Greenpress (13 April 2008), menyatakan bahwa intensitas pemberitaan media kerap meredup ketika sudah tak ada bencana alam menerjang yang mengakibatkan korban-korban manusia berjatuhan dan harta benda mengalami kehancuran. Responsi terhadap pemanasan global, misalnya, hingga kini tampak masih kurang memperoleh penyikapan yang, bermakna dan mendalam dari sebagian besar media di lndonesia. Padahal, kehancuran ekologis pads level global memiliki dampak serius pada kerusakan lingkungan secara keseluruhan.

Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektf. jurnalisme linqkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan. Kemasan berita seakan-akan masalah lingkungan tidak bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia tentu harus diubah. Sebab lazimnya, publik akan tertarik terhadap isu-isu yang dampaknya langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika selama ini ada mitos mapan bahwa kekuatan watchdog media hanya dapat dijalankan untuk menyoroti problem-problem politis, seperti isu korupsi maupun demokratisasi, selayaknya harus diubah secara radikal. Masalah lingkungan pun bermuatan politis. Kerusakan ekologis tidak lepas dari bagaimana kekuasaan dijalankan oleh elite politik dan elite ekonomi yang bergandengan tangan menumpuk gengsi sosial dan profit financial.

Apabila isu lingkungan mengandung muatan politis, sesungguhnya ada beberapa faktor penyebab sehingga media tidak dapat berperan sebagaimana mestinya, yakni Pertama, kepemilikan modal media terkonsentrasi pada segelintir pihak. Kedua, nilai-nilai tabloidisme telah menggerus standar dan keputusan pemberitaan. Ketiga, kebiasaan-kebiasaan ruang pemberitaan dalam dewan redaksi menggerogoti perbincangan publik yang sehat.

Problem ekonomi politik media menjadikan wartawan tidak memiliki kekuatan untuk mengungkapkan kasus-kasus kerusakan lingkungan, karena kemungkinan ada pemilik media yang memiliki perusahaan-perusahaan non-media yang mendapatkan proyek dari pemerintah.

Jalinan erat birokrasi dan korporasi ini menyulitkan para wartawan mengungkap skandal degradasi ekologis yang melibatkan aparat pemerintah dan pengusaha. Kebiasaan wartawan menonjolkan sensasionalisme dalam pemberitaan dan menjalankan liputan yang sekadar berpatokan pada peristiwa, semakin menjadikan jurnalisme lingkungan sulit direalisasikan.

4 hal yang sering disajikan media dalam meliput persoalan-persoalan lingkungan:

  • Kalangan reporter lingkungan sering mengabaikan pendapat-pendapat ilmiah yang sebenarnya sangat berbeda dengan pemikiran kalangan penganut environmentalisme.
  • Sangat sedikit jurnalis yang memiliki latar belakang pengetahuan ilmiah, sehingga mereka gampang dimanipulasi oleh kalangan aktivis lingkungan;
  • Kelompok-kelompok aktivis atau pemerhati lingkungan meningkatkan kampanye kehumasan yang efektif dan didanai secara baik yang dimulai sejak tahun 1970 dan terus berlanjut hingga sekarang.
  • Desakan media untuk meningkatkan sirkulasi dan rating acapkali menjadikan media menghadirkan laporan-laporan ekologis sedramatis mungkin.

Kiat Menulis Masalah Lingkungan Hidup:

  • Jurnalis harus mampu mempopulerkan masalahnya dengan menggunakan peristilahan yang tepat dan pengalihan gagasan/ konsep yang populer, sehingga dimengerti oleh pembaca/ pemirsa.
  • Jurnalis harus berhati-hati terhadap penerjemahan istilah asing,dan meminta pertimbangan para pakar. Istilah-istilah ilmiah nama spesies, zat kimia, dll, harus ditulis dengan kesepakatan dari komunitas yng bersangkutan.
  • Jurnalis harus bisa mendekatkan persoalan pada khalayak dengan menjadikan masalah itu sebagai masalah lingkungan di tingkat lokal dan tingkat pengaruhnya.
  • Menampilkan drama dalam reportase, yakni drama tentang manusia.
  • Meletakkan manusia sebagai pusat berita
  • Menggunakan foto, gambar, dan ilustrasi untuk menarik perhatian pembaca/ pemirsa terhadap berita, seperti foto manusia dengan lingkungannya atau esi foto,
  • Menggunakan verifikasi berlapis menggunakan bahan pustaka, riset, narasumber/ para pakar. (Diolah dari greenpressnetwork dan berbagai sumber lainnya)

Sumber : http://ruangdosen.wordpress.com

About Greenpress

Green Press adalah organisasi profesi wartawan lingkungan yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 2004

4 responses »

  1. octo mengatakan:

    salam

    ketertarikanku pada masalah lingkungan sudah berlangsung sejak aku masih kecil.
    suatu ketika, usiaku pada saat itu 7 tahun atau dalam jenjang pendidikan masih kelas 2 SD, ayah saya membeli sebuah kamera.
    sebelumnya paman aku yang bermukin di jakarta mengirimkan aku sebuah buku terbitan gramedia judulnya Alam semesta, buku tersebut menjadi buku kesayanaganku, dimana aku sring belajar alphabet dangan membaca perlahan dalam buku tersebut.
    tetapi yang lebih menarik adalah suguhan gambar-gambar di dalamnya yang menarik bagiku, kadang aku bertanya pada ayah, bagaimana caranaya mereka membuat foto sebaik ini, ayah menjawab singkat ya mereka foto dengan kamera lalu fot itu di masukan dalam buku yang sekarang engkau baca.
    dalam hati aku berfikir, jika aku punya kamera aku akan membuat foto bagus sebanyak-banyaknya.
    tidak lama selepas kejadian itu, ayah membeli sebuah kamera ketika pergi ke jayapura dalam sebuah perjalanan dinas, mereknya aku lupa, tetapi untuk jaman itu termasuk kamera yang mahal, kira kira Rp. 40.000.
    aku terlalu senang sekali melihat lehadiran benda baru yang sudah lama ku idam idamkan, langsung saja ku tawarkan jasa, ayah gimana kalau kamera ini aku yang simpan, tetapi ayah menjawab kapan saja kamu bisa minta, tetapi baiknya bapak yang simpan, pokoknya aku ngotot (maklum masih kecil) bahwa harus aku yang simpa, akhirnya di kabulkan.
    aku perhatikan ternyata bapak sudah mengisi roll film kodak 24 dan baterei yang masih baru dan belum di gunakan sama sekali.
    perlahan aku keluar dan ku foto semua yang kulihat bagus, mulai dari bunga, pohon, ayam, dan segalah macan benda yang menarik perhatianku, hingga kamera tidak bisa lagi terfoto, aku takut luar biasa, diam diam aku masuk ke kamar ayah, ku simpan kamera itu di atas almari pakaian ayahku, ku fikir sudah aman.
    ternyata semua kejain itu di perhatikan ayah dari jendela ruang belakang, yang jaraknya tidak jauh dari tempat kejadian.
    jelang 5 menit ayah memanggilku, octo …. octo, aku takut setengah mati kalau kalau ayah tahu kamera itu rusak apasti aku kena marah.
    ayah berkata antar kemera ke sini, maksudnya ke tempat ayah, dengan agar gusar ku antar kamera itu dan senyum ayah mengambil dari tanganku dan berkata mari duduk di sini dan perhatikan.
    aku duduk manis di sampaing ayah, mataku tertuju pada kamera dengan agak penasaran.
    setelah mengehela nafas ayah berkata kepadaku, jika suatu waktu kamu memotret dan tidak berjalan seperti tadi, berarti ada dua hal yang kamu perhatikan, pertama rolll filmnya sudah habis sehingga harus di ganti, kedua baterei nya sudah lemah sehingga juga harus di ganti, unutk baterei dapat di lihat di lampu ini, sambil menunjuk ke salah satu lampu yang terletak di kiri atas kamera tersebut.
    dan aku mengangguk tanda mengerti, dengan perlahan aku memberanikan diri memegang kamera yang di pegang ayah dan berkata, lalu kenapa tadi mati, apakah karena batereinya mati, dan ayah menjawab, oh tidak tadi itu kamu banyak memotret sehingga rollnya habis, jika baterei lemah lampu berwarna merah ini tidak mungkin menyala.
    aku menarik nafas panjang dengan lega dan berkata, oh tadi saya fikir rusak, karena foto, ayam, bunga, pohon kelapa. tiba tiba aku sadar bahwa aku sedang membongkar kedokku dan langsung menutup mulut dan tertuntuk lalu tidak lamah melihat ayah, memperhatikan apa reaksi ayah atas keceplosanku.
    ayah hanya bilang tadi ayah lihat semua yang kamu lakukan, aku bertambah bingung dan bertanya dari mana ayah lihat, dari jendelah ini, sambil menunjuk jendela yang berada pas di belakang ku, aku tersenyum dan berkata ah tadi aku fikir bapak akan marah jadi aku berlari ke kamr dan menyimpan kamera itu di atas almari pakaian
    ayah menjawab singkat, iya, ayah lihat juga, aku dan ayah terdiam sebentar, lalu ayah mengatakan padaku.
    bapak tidak marah, tetapi ingat kamu sudah menghabiskan seluruh roll yang bapak beli dan untuk mendapatkan roll baru maka kamu harus kerja membantu, ayah dan ibu agar kita punya uang dan bisa beli roll film dan baterai buat kamu foto, dan sekarang kamera ini kamu simpan dengan baik ya.
    itu sedikit cerita, awal mula aku tertarik pada fotografi lingkungan hidup.
    setiap kali ada kesempatan memotret sesuatu menyangkut lingkungan, pasti aku potret, tetapi sayangnya semua itu tidak pernah ku simpan dengan rapi hingga usiaku yang sudah masuk 27 tahun ini.
    beberapa waktu lalu tepatnya bulan desember, aku baru membeli sebuah kamera cannon powershot A 720, 8.0 mega pixel, dan 6x optical zoom, aku mulai kembali menekuni dunia yang sekian lama hanya menjadi kisah setengah-setengah.
    ketertarikanku pada alam dan kesemerawutan lingkungan kota kina bertamabah.
    beberap perjalananku ke Asmat, merauke, timika, paniai dan jayapura, ku abadikan dengan baik dan ku simpan rapi di komputerku.
    belakangan aku mulai berfikir membentuk suat kelompok pencinta lingkungan yang lebih fokus pada memotret semua keindahan alam, kehancuran alam dan semua hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup.
    di samping itu kelompok itu nantinya menjadi kelopmpok diskusi pemerhati lingkungan yang selalu mengkampanyekan persoalan lingkungan.
    aku juga bermimpi, kelak bisa ku pamerkan karya kepada semua orang, baik melaui pameran maupaun dengan membuka website, dimana orang bisa mengambil karyaku unutk di pakai sebagai screensaver komputer, atau apa saja, yang jelas aku akan sangat bangga ketika manusia menghormati lingkungan melalui media yang ku buat.
    demikian curahan pikiran dari apa yang ku alami dan hendak ku perbuat
    sebelum menutup, tulisan ini hendak ku sampaikan kalau, aku adalah orang asli papua, dari pedalaman Paniai khsusnya suku Mee.
    saat ini aku tinggal di papua, tepatnya di kota jayapura, 1 tahun lalu aku baru pulang dari bandung-jawa barat, setelah selesai kuliah di universitas pasundan sejak 2001-2007.
    jika ada saran dan masukan untukku, mungkin akan lebih baik.
    oh ya, bisa menghubungi aku melalui e-mail: takimaibo@yahoo.com

    salam kompak selalu
    octo

  2. Asskum dan Salam Ibadat Puasa serta Selamat Menyambut Hariraya AidilFitri 2009.

    Salam Persaudaraan buat semua warga Wartawan Green Press.

    Saya adalah Wartawan Mingguan dan Pengerusi Perhubungan Negeri Sabah/Labuan bagi Pertubuhan Kebangsaan Wartawan Dan Oenulis Melayu Malaysia(PKWPMM),ingin bertanya bagaimana menghantar bahan berita untuk disiarkan dan adakah dibayar,sekiranya berita disiarkan serta apakah jenis-jenis bahan berita yang perlukan oleh pihak tuan/puan dari masa kesemasa.Semoga mendapat jawapan dengan kadar segera.

    Sekian,terima kasih.

    Yang benar,

    ( SULAIMAN BIN KILO @ SARIPUDIN KADIR )
    D/A PETI SURAT BIL :50381
    88200 PUTATAN,SABAH,MALAYSIA TIMUR.

    • greenpressnetwork mengatakan:

      Wassalam,
      Selamat idul fitri, mohon maaf lahir batin.

      Terima kasih atas kunjungan Anda diblog Green Press, perlu kami jelaskan Green Press adalah Organisasi Wartawan Lingkungan di Indonesia, untuk membantu penyebaran berita seputar lingkungan hidup kami mendirikan sebuah situs berita lingkungan hidup yang beralamat di http://www.beritalingkungan.com. Kami hanya menerima tulisan, foto atau video yang terkait dengan lingkungan hidup via email : beritalingkungan@gmail.com atau inboxmarwan@yahoo.co.id.

      Sebelum menetapkan seorang (Anda) menjadi kontributor http://www.beritalingkungan.com, kami perlu mengetahui diri Anda sebelumnya, jadi silakan kirim riwiyat hidup atau curiculum vitae Anda dan contoh tulisan Anda yang pernah dimuat di media dan satu naskah beserta naskah aslinya, silakan kirim ke email kami diatas.

      Salam

      Marwan Azis

  3. reo mengatakan:

    Salam,
    terima kasih atas artikelnya.. Sangat menarik sekali. Sebelumnya, perkenalkan, saya wartawan di sebuah media di Kalimantan Timur. Memang benar, media lebih senang meliput dampak dari lingkungan bukan penyebabnya. Menurut saya, sepele saja, lebih mudah dijual. Karena ada nilai news, sedih, gembira dan lainnya. Sedangkan yang preventif, lebih banyak kepada teoritis. Lagi-lagi memang soal oplah..
    Selain itu, untuk mengulas lebih dalam mengenai penyebabnya, kadang kita terkendala dengan akademisi yang enggan bicara. Maklum, sebagian dari mereka adalah konsultan pemerintah. Sedangkan pihak legislatif, cukup getol soal bicara dampaknya, tapi ketika diminta dokumen APBD soal dana-dana yang digunakan untuk menanggulangi bencana, biasanya mereka enggan bicara..
    Tapi, apapun juga, itu adalah tantangan bagi kita semua untuk mewarikan keadaan yang lebih baik bagi generasi selanjutnya =p

    Salam,
    REONALDUS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s