Ditulis oleh Sirikit Syah

Nilai Berita

Di dunia media massa, ada yang disebut standar jurnalistik (standard of journalism), yaitu kaidah-kaidah yang harus dilakukan oleh wartawan, misalnya mengungkapkan fakta, bukan opini atau asumsi; cover both sides, bukannya one-sided. Biasanya organisasi wartawan kemudian menjabarkan standard of journalism (yang digabung dengan code of conduct) ke dalam kode etik jurnalistik. Di Indonesia saat ini setidaknya terdapat 4 jenis kode etik jurnalistik yang terdokumentasi dan dikenal luas, yaitu Kode Etik Wartawan Indonesia, Kode Etik PWI, Kode Etik AJI, dan Kode Etik IJTI.

Bagaimana wartawan di wilayah/negara yang berbeda mengemban tugasnya, tentunya tergantung pada kesepakatan tentang ‘nilai berita’ di masing-masing wilayah/negara pada waktu tertentu. Menurut Jack Lule, ada perbedaan yang cukup signifikan dalam kriteria berita di tiga dunia yang berbeda.[1] Di dunia yang sudah maju, misalnya (kerap direpresentasikan oleh negara-negara barat berideologi liberal), nilai beritanya adalah:

1. Kecepatan. Berita adalah sekarang, saat ini, tengah berlangsung.
2. Jarak. Semakin dekat jarak obyek berita dengan konsumen, semakin baik (tak heran, bangsa Amerika adalah bangsa yang warganya paling minim pengetahuan tentang negara lain. Sebagai negara maju, medianya lebih suka melaporkan hal-hal tentang diri sendiri).
3. Tokoh. Ketokohan sangat berarti. Man makes news.
4. Peristiwa luar biasa, berskala besar, banyak korban.
5. Human interest (segala sesuatu yang menarik perhatian manusia, biasanya seks, horor/sadisme, misteri, humor/anekdot, kisah-kisah aneh, gosip selebrities, dll).
6. Pertentangan (conflict, controvery). Bad news is a good news.

Sementara itu, di sisi dunia lain yang berideologi kepartaian (partisan) –misalnya Uni Soviet sebelum tahun 80-an-, nilai berita tak lepas dari:

1. Makna penting ideologis.
2. Perhatian terhadap partai.
3. Tanggungjawab sosial.
4. Pendidikan.
5. Perhatian manusia (human interest).

Di negara yang baru merdeka –biasanya direpresentasikan oleh negara-negara ketiga atau developing countries- dan tengah membangun, biasanya pers menerapkan kelayakan berita dengan nilai-nilai:

1. Pembangunan.
2. Tanggungjawab sosial.
3. Integrasi nasional.
4. Pendidikan.

(Menilik perubahan yang luar biasa dari era Orde Baru ke era Reformasi, pers Indonesia yang telah berubah dari Pers Pembangunan–Pers Pancasila-Pers Bebas- agaknya perlu kembali pada nilai-nilai berita yang dianut Pers Pembangunan seperti tersebut di atas, terutama dengan maraknya gerakan separatisme yang memerlukan komitmen terhadap integrasi nasional).

Sementara itu, UU Pers No 40/1999 menyebutkan peran dan fungsi pers sebagai sarana a) informasi, b) pendidikan, c) hiburan, d) kontrol sosial, e) ekonomi.

Persoalan Lingkungan Tak Layak Berita?

Menilik minimnya perhatian media massa pada isu-isu lingkungan hidup –khususnya masalah pencemaran udara-, dapat disimpulkan betapa media massa menjauhi topik ini. Jangankan pemuatan di halaman satu atau menjadi headline, informasi jenis ini bahkan jarang ditemukan di halaman dalam atau belakang surat kabar sekalipun. Kalau ada, mayoritas dalam bentuk berita singkat 1 kolom 1 alinea (agenda kota atau press release).

Berdasarkan pengalaman penulis menjadi wartawan, redaktur, dan produser berita, diakui adanya diskriminasi perhatian dan perlakuan pada berita-berita lingkungan hidup. Ada kecenderungan, wartawan hanya meliput bila ada ‘kerusakan lingkungan’ (ingat kasus ‘longsornya tanah hutan di Mojokerto’, atau saat ini ‘kriris air’), sementara upaya-upaya kecil yang dilakukan banyak aktivis dan warga masyarakat (misalnya kegiatan Yayasan Tunas Hijau menanam pohon, masyarakat stren kali membersihkan sungai, atau imbauan LSM Lingkungan untuk hemat air, dll), tidak masuk hitungan.

Di lain pihak, sebagai pelatih jurnalis, penulis menerima keluhan dari kalangan jurnalis bahwa seringkali tokoh/aktivis LSM dan para narasumber di kalangan birkorat ‘pelit’ terhadap informasi yang mereka miliki. Bila wartawan datang untuk mendapatkan informasi, tidak diberi. LSM dan birokrat hanya bersedia memberikan informasi atau diliput bila mengadakan jumpa pers atau mengadakan kegiatan yang sifatnya ekspose. Nyaris tak ada ide-ide segar untuk mempromosikan perlunya upaya pelestarian lingkungan. Yang ada adalah ‘mengatasi krisis pemberitaan’ bila ada berita buruk. Kebijakan dan program-program lingkungan kurang disosialisasikan kepada masyarakat melalui pemberitaan yang menarik di media massa. Kedua belah pihak, pers dan narasumber, sama-sama enggan mendekati karena sudah ada ‘prejudice’ bahwa berita hanya ada saat jumpa pers, dan sama-sama kekeringan ide-ide menciptakan berita baru, segar, menarik, penting, yang berkaitan dengan isu lingkungan hidup.

Berikut ini catatan singkat tentang berita Lingkungan Hidup di 3 surat kabar Surabaya, dalam kurun waktu 40 hari (Juli s/d 10 Agustus 2003).

Harian Surya mencatat angka tertinggi dengan 20 berita. Surabaya News dan Jawa Pos jauh di belakangnya (7 dan 5 berita). Tak ada satupun dari berita-berita lingkungan itu yang menjadi headline atau ditempatkan di halaman 1. Dalam 40 hari itu, dalam jumlah 32 berita di tiga surat kabar, topik lingkungan yang paling sering diangkat adalah pencemaran dan kelangkaan air serta kekeringan (24 berita). Masalah udara (hujan debu, asap kebakaran hutan) tercatat hanya dua berita, sampah dan limbah 3 berita, sedangkan selebihnya adalah serangan hama (1), dan angin kencang (1). Satu lagi berita sudah termasuk wilayah hukum (Walhi menggugat Gubernur).

Tak adanya perhatian pers terhadap isu lingkungan hidup ini aneh, sebab menurut penelitian Ronny H. Mustamu (UK Petra), masyarakat mendudukkan isu lingkungan hidup pada tempat pertama yang diinginkannya dilaporkan media massa. Sementara, media massa (Jawa Pos, Surya, Surabaya Post/News, Kompas) secara kompak menempatkan isu KKN pada urutan pertama, dan lingkungan hidup pada urutan ke 6 (JP dan Kompas), 8 (Surya), serta 9 (Surabaya Post/News). Bagi rakyat (responden) KKN juga penting, namun menduduki urutan kedua, di bawah lingkungan hidup. Data ini didapat pada periode penerbitan September 2002.[2]

Menarik Perhatian Pers

Memang dari segi materi/obyek berita, ada kriteria tertentu bagaimana sebuah informasi atau kejadian dapat dianggap newsworthy atau layak berita. Dengan mengenali unsur-unsur kelayakan berita dalam sebuah event atau press release, sumber (dalam hal ini pejabat pemerintah atau aktivis LSM) dapat ‘menjerat’ pers tanpa umpan ‘amplop’. Bagaimanapun, media butuh berita/informasi. Bila kepadanya disajikan informasi yang memenuhi kriteria pemuatan, bahkan amplop atau suvenirpun tak perlu lagi.

Agar press release atau event yang kita selenggarakan diliput media (cetak atau elektronik), di dalamnya mesti mengandung sebagian dari unsur ini:

– Aktualitas, sesuatu yang baru.

– Importance, sesuatu yang penting.

– Prominence, ada tokoh publik yang bisa make news.

– Magnitude, skalanya besar.

– Controversy, mengandung konflik atau pertentangan.

– Impact, berdampak bagi reader/audience

– Proximity, obyek berjarak dekat dengan reader/audience.

– Humor, mengandung canda.

– Unique, sesuatu yang aneh/unik.

– Tragedy.

Kesimpulan

Sesungguhnya, kemajuan bangsa diawali dari program pendidikannya. Pendidikan & pelatihan di bidang lingkungan hidup merupakan modal dari pembangunan berkelanjutan (bukan kelanjutan pembangunan, yang identik dengan proyek-proyek). Kesadaran akan perlunya menghemat air bersih, membuang sampah di tempatnya, memilah-milah sampah untuk memudahkan recycling (daurulang), meminimalisasi produksi limbah & sampah, dll, perlu ditumbuhkan secara bersama-sama oleh pemerintah, LSM, media massa, dan berbagai lembaga di masyarakat lainnya melalui program-program kampanye maupun pendidikan.

Pendidikan dan latihan dapat diberkan pada kedua belah pihak: pers dan narasumber, wartawan dan pelaku informasi (pejabat, tokoh, aktivis). Untuk kalangan pers, pengetahuan lebih mendalam tentang lingkungan hidup akan bermanfaat dalam pekerjaannya. Pelatihan semacam ini sangat dianjurkan untuk diselenggarakan oleh badan-badan terkait dengan sasaran para wartawan lingkungan hidup. Bagi kalangan non-pers, pemahaman tentang kinerja jurnalistik dapat membekalinya dengan perangkat yang tepat dalam pekerjaannya.

Perlu juga disadarkan di kalangan pers agar ‘back to basic’, yaitu jurnalisme kembali berorientasi ke rakyat. Di Amerika –negara liberal yang menjadi ‘dewa’ free press- kini banyak dibicarakan pendekatan civic journalism atau public journalism, yaitu jurnalisme yang dikembalikan ke rakyat. Artinya, rakyat menentukan agenda ‘what they want to know’, bukan para pemilik media atau pememipin redaksi. Rakyat juga ikut mengisi media dengan melaporkan langsung dari tempat mereka (mungkin seperti program Kelana Kota di Suara Surabaya), dan media memberi tempat luas bagi Surat Pembaca, yang merupakan berita original yang tak kalah penting dan menarik dengan berita ciptaan wartawan atau tokoh yang haus publikasi.

Seperti ditunjukkan hasil riset Mustamu, lingkungan hidup bukan isu yang tidak menarik bagi publik. Ini masuk akal bila disesuaikan dengan kriteria layak berita, yaitu bahwa lingkungan hidup memiliki unsur proximity, impact, importance, dekat dengan readers/audience, berdampak, dan penting bagi hajat hidup orang banyak. Kadang-kadang memang pers bisa salah tafsir atas apa yang sesungguhnya dimaui rakyat, atau sengaja membelokkan perhatian rakyat, sesuai agenda kepentingan media dan keum elit lainnya.

About Greenpress

Green Press adalah organisasi profesi wartawan lingkungan yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 2004

One response »

  1. wahab mengatakan:

    mungkin wartawan-wartawan atau pengelola media massa masih menunggu tidak bisa makan uang setelah air tidak ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s